Hari Perempuan   Women Day

blogger counters


Ucapan Selamat Hari Ibu 22 Desember 2016

22 Desember 2014 - Ucapan Selamat Hari IbuHari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother's Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.

22 Desember 2014 - Ucapan Selamat Hari IbuHari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekrit Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sbeuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupaakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia di abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

22 Desember 2014 - Ucapan Selamat Hari IbuIndonesia juga merayakan Hari Kartini pada 21 April, untuk mengenang aktivis wanita Raden Ajeng Kartini. Ini merupakan perayaan terhadap emansipasi perempuan. Peringatan tanggal ini diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia 1938. Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini sebagai memperingati hari emansipasi wanita nasional. Tetapi banyak warga Indonesia yang memprotes dengan berbagai alasan diantaranya Kartini hanya berjuang di Jepara dan Rembang, Kartini lebih pro Belanda dari pada tokoh wanita seperti Cut Nyak Dien, dll.

Karena Soekarno sudah terlanjur menetapkan Hari Kartini maka Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan wanita selain Kartini seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dll. Akhirnya Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan wanita alias pahlawan kaum ibu-ibu dan seluruh warga Indonesia menyetujuinya.
Selengkapnya

Universitas Visva-Bharati Shantiniketan

Universitas Visva-Bharati - Shantiniketan
Didirikan oleh Rabindranath Tagore pada tahun 1921, Universitas Visva-Bharati terletak di Santiniketan, Benggala Barat, India. Universitas ini memiliki beragam bidang studi, baik untuk tingkat Strata 1 (S1), Magister, maupun Doktoral. Tepatnya tanggal 22 Desember 1918 Peletakan batu pertama Perguruan Visva-Bharati, lebih dikenal dengan nama Perguruan Shantiniketan, kini menjadi Universitas Visva-Bharati, tanggal 22 Desember 1921 - Pembukaan resmi Perguruan Visva-Bharati.

Shantiniketan (Bahasa Bengali:Shantiniketôn} adalah sebuah kota kecil di dekat Bolpur di distrik Birbhum, Benggala Barat, India, kira-kira 180 kilometer di sebelah utara Kolkata. Rabindranath Tagore, penerima penghargaan Nobel, menjadikan tempat ini terkenal di seluruh dunia, karena visinya membangun tempat ini menjadi kota pendidikan (Universitas Visva-Bharati) yang mengundang ribuan pengunjung datang setiap tahunnya. Shantiniketan juga menjadi daerah tujuan wisata karena Tagore lama menetap di sini. Rumahnya kini menjadi tempat yang bersejarah.

Shantiniketan sebelumnya bernama Bhubandanga, dan dimiliki oleh keluarga Tagore. Ayah Tagore, Debendranath Tagore membangun ashram (semacam sekolah dengan asrama) dan menciptakan kawasan ini penuh dengan kedamaian. Nama tempat ini kemudian diganti menjadi Shantiniketan ("tempat tinggal yang damai"). "Gurudev" — gelar yang diberikan kepada Rabindranath Tagore — mendirikan Patha Bhavana, sebuah sekolah ideal dalam visinya, pusat pengajaran yang dilakukan di ruang terbuka, menyatu dengan alam dan lingkungan, yang menciptakan suasana lebih bergairah dibandingkan dengan suasana di dalam kelas.

Setelah Tagore menerima Penghargaan Nobel dalam Sastra, hadiahnya ia pakai untuk mengembangkan sekolah ini menjadi universitas. Banyak para pengajar terkenal dari seluruh penjuru dunia datang dan mengajar di sini. Indira Gandhi adalah salah satu siswa lulusan dari Shantiniketan. Tempat ini juga menjadi tempat menimba ilmu dari Dr. Amartya Sen, peraih Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel tahun 1998. Konsep Shantiniketan diadaptasi oleh Ki Hadjar Dewantara untuk Perguruan Tamansiswa, sekolah yang didirikannya.

Rabindranath Tagore (bahasa Bengali: Rabindranath Thakur; lahir di Jorasanko, Kolkata, India, 7 Mei 1861 – meninggal 7 Agustus 1941 pada umur 80 tahun [γ]) juga dikenal dengan nama Gurudev,[δ] adalah seorang Brahmo Samaj, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Ia terlahir dalam keluarga Brahmana Bengali, yaitu Brahmana yang tinggal di wilayah Bengali, daerah di anakbenua India antara India dan Bangladesh. Tagore merupakan orang Asia pertama yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra (1913).

Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun, ia menggunakan nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) untuk penerbitan karya puisinya yang pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mengenyam pendidikan dasar di rumah (Home Schooling), dan tinggal di Shilaidaha, serta sering melakukan perjalanan panjang yang menjadikan ia seorang yang pragmatis dan tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat. Rasa kecewa kepada British Raj membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi. Dan juga dikarenakan rasa kehilangan hampir segenap keluarganya, serta kurangnya penghargaan dari Benggala atas karya besarnya, Universitas Visva-Bharati.

Beberapa karya besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World), serta karya puisi, cerita pendek dan novel dikenal dan dikagumi dunia luas. Ia juga seorang reformis kebudayaan dan polymath yang memodernisasikan seni budaya di Benggala. Dua buah lagu dari aliran Rabindrasangeet (sebuah aliran lagu yang ia ciptakan) kini menjadi lagu kebangsaan Bangladesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana).
Selengkapnya

22 Desember 1928 - Peringatan Hari Ibu

22 Desember 1928 - Peringatan Hari Ibu
Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Sejarah Hari Ibu di Inndonesia diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan.

Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.

Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.
Selengkapnya

Ito Hirobumi - Perdana Menteri Jepang

Ito Hirobumi - Perdana Menteri Jepang Pertama
Perdana Menteri Jepang adalah kepala pemerintahan Jepang. Perdana Menteri ditunjuk oleh Kaisar Jepang setelah ditunjuk oleh Diet di antara anggotanya dan harus mendapatkan kepercayaan dari DPR untuk memegang jabatan. Perdana Menteri adalah kepala Kabinet dan mengangkat serta memperhentikan Menteri Negara; terjemahan harfiah dari nama Jepang untuk kantor adalah Menteri Admintrasi Umum untuk Kabinet. Jabatan itu diciptakan pada tahun 1885, empat tahun sebelum diberlakukannya Konstitusi Meiji. Bentuk sekarang mengadopsi dari konstitusi saat ini pada tahun 1947.

Setelah Restorasi Meiji, sistem Daijō-kan yang digunakan dalam Periode Nara diadopsi sebagai entitas pemerintah Jepang. Kekuatan politik pemimpin mereka adalah Daijō Daijin dan para pembantunya disebut Sadaijin dan Nadaijin yang ambigu dan sering bertentangan dengan posisi lain seperti Sangi. Pada tahun 1880-an, Itō Hirobumi, salah satu Sangi mulai mereformasi organisasi pemerintah. Pada tahun 1882, Ito dan stafnya, Itō Miyoji dan Saionji Kinmochi berkunjung ke Eropa dan menyelidiki konstitusi di konstitusional monarki yang Kekaisaran Inggris Raya dan Kekaisaran Jerman. Setelah kembali ke Jepang, Ito mendesak kebutuhan Undang dan sistem pemerintahan yang modern dan konservatif dibujuk untuk menyetujui rencananya.

Pada tanggal 22 Desember 1885, dalam rangka Daijō-kan, No 69 penghapusan Daijō-kan dan induksi Perdana Menteri (内阁 総 理 大臣), Ito Hirobumi seorang samurai menjadi Perdana Menteri Jepang pertama dan kabinetnya diterbitkan. Itō Hirobumi (伊藤 博文 Itō Hirobumi 1841–1909, juga dipanggil Hirofumi/Hakubun) adalah seorang politisi Jepang dan Perdana Menteri Jepang yang pertama (dan juga ke 5, 7, dan 10). Masa bakti ke-1: 22 Desember 1885 - 30 April 1888 861 hari, Masa bakti ke-5: 8 Agustus 1892 - 31 Agustus 1896 1.485 hari, Masa bakti ke-7: 12 Januari 1898 - 30 Juni 1898 170 hari dan Masa bakti ke-10: 19 Oktober 1900 - 10 Mei 1901 204 hari.

Ito adalah putra angkat seorang samurai Choshu dan sendiri memperoleh gelar samurai pada 1863, namun kunjungannya ke Inggris pada tahun yang sama meyakinkan dirinya bahwa Jepang perlu melakukan modernisasi ala Barat. Pada 1864 dia kembali ke Jepang dengan Inoue Kaoru untuk mencoba mencegah klan Choshu yang ingin memulai peperangan melawan para orang asing mengenai hak melintasi Selat Shimonoseki. Pada saat itu dia bertemu Ernest Satow untuk pertama kalinya, yang kemudian menjadi teman baiknya. Suematsu Kencho menikahi putri keduanya, Ikuko.

Setelah Restorasi Meiji, Ito bertugas menjadi seorang penasehat muda di berbagai departemen pemerintah. Pada 1873, Ito diangkat menjadi penasehat penuh dan setelah kematian Okubo Toshimichi pada 1878 dia menjadi menteri dalam negeri dan mendominasi pemerintahan. Saat tahun 1881 dia berhasil memaksa Okuma Shigenobu untuk mengundurkan diri dan memperoleh posisi penting tersebut sendiri. Dia mengepalai beberapa misi untuk mempelajari pemerintahan asing dan kemudian menetapkan sebuah kabinet dan pelayanan sipil pada 1885 berdasarkan ide-ide yang diperoleh dari Eropa, menggantikan Dajokan sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai hak mengambil keputusan dan menjadikan dirinya Perdana Menteri Jepang pertama.

Ide pemerintahan konstitusi didapatkannya dari menjadi anggota dari misi Iwakura. Dia mendirikan salah sebuah partai politik Jepang terawal, Rikkenseiyukai. Pada tahun 1885 dia menegosiasikan Konvensi Tientsin dengan Li Hung-chang. Dia juga mensupervisi perancangan Konstitusi Meiji 1889. Ito tetap menjabat sebagai ketua Dewan Penasehat Tinggi ketika Kuroda Kiyotaka dan Yamagata Aritomo menjabat sebagai Perdana Menteri.

Semasa menjabat sebagai Perdana Menteri kembali pada (1892-96), dia mendukung Perang Sino-Jepang (1894-1895) dan menegosiasikan Perjanjian Shimonoseki pada Maret 1895. Seusai perang dia menjadi pimpinan pertama partai Seiyukai, menjadi oposisi melawanYamagata Aritomo.Pada masa baktinya sebagai perdana menteri yang ketiga dan keempat (1898-1899, 1900-1901) dia mencoba menegosiasikan sebuah perjanjian dengan Rusia sebelum dipaksa mundur dari jabatannya oleh politisi-politisi yang lebih militeristik. Dia tetap merupakan orang yang kuat di pemerintahan ketika posisi perdana menteri berturut-turut dipegang oleh Saionji Kimmochi dan Katsura Taro.

Pada November 1905, setelah Perang Rusia-Jepang, Korea dijajah pasukan Jepang dan pemerintah Korea dipaksa untuk menanda tangani Perjanjian Protektorat; Ito menjadi gubernur jendral pertama di sana pada 1906. Dia memaksa pemimpin Korea Raja Gojong, untuk mengundurkan diri pada 1907 untuk digantikan anaknya Raja Sunjong dan mendorong tercapainya Konvensi Jepang-Korea (1907) yang memberikan Jepang kekuasaan yang cukup besar terhadap masalah dalam negeri Korea. Meski mengundurkan diri dari posisi Gubernur Jendral Korea pada 1909, Ito dibunuh di Harbin,Manchuria oleh seorang nasionalis Korea bernama An Jung-geun. Kematiannya memicu penjajahan penuh terhadap Korea pada 1910 melalui Perjanjian Penjajahan Jepang-Korea.
Selengkapnya