Hari Perempuan   Women Day

blogger counters


Piala Jules Rimet - Piala Dunia FIFA

Piala Jules Rimet - Piala Dunia FIFA
Piala Jules Rimet (bahasa Perancis: Coupe Jules Rimet) ialah trofi Piala Dunia FIFA antara tahun 1930-1954. Piala ini diberi nama menurut Presiden FIFA Jules Rimet. Piala Jules Rimet berbentuk patung emas sebesar botol. Seperti kebanyakan piala, patung ini berbentuk wanita. Wanita itu mengembangkan tangan bersama sayapnya. Di bawah patung itu tertulis nama pemenangnya.

Pada 21 Juni 1970 Brasil menjuarai Piala Dunia FIFA untuk yang ke-3 kalinya (1958, 1962, dan 1970), sehingga berhak memiliki Piala Jules Rimet untuk selamanya. Pemenang : 1930 - Uruguay, 1934 - Italia, 1938 - Italia, 1950 - Uruguay, 1954 - Jerman Barat, 1958 - Brasil, 1962 - Brasil, 1966 - Inggris dan 1970 - Brasil. Dianugerahkan sejak Piala Dunia FIFA 1930, Italia memenangkan piala ini 2 kali, dan sampai tahun 1970, Brasil memenangkan piala ini 3 kali.

Pemenang terakhir dapat menyimpan piala tersebut setelah menang 3 kali, karena demikianlah peraturannya. Semasa Perang Dunia II, piala ini disimpan oleh Ottorino Barassi, Presiden FIFA saat itu di bawah ranjangnya di Italia. Beberapa waktu sebelum Piala Dunia 1966 di Britania Raya, piala ini dicuri. Seekor anjing menemukannya di sebuah taman. Sejak tahun 1970 piala ini disimpan di Brasil, sampai ketika dicuri lagi pada tahun 1983 di Rio de Janeiro. Piala ini tak pernah ditemukan lagi dan Konfederasi Sepak Bola Brasil membuat tiruannya.

Piala Dunia bukanlah kejuaraan sepak bola internasional pertama. Sepak bola amatir menjadi bagian dari program Olimpiade untuk pertama kalinya pada tahun 1908. Pada tahun 1909 di Torino diselenggarakan sebuah turnamen sepak bola yang bernama Piala Sir Thomas Lipton. Italia, Jerman, dan Swiss mengirimkan klub mereka yang paling prestisius ke turnamen tersebut namun Persatuan Sepak bola Inggris (FA) menolak tawaran untuk ikut serta dalam kejuaraan itu.

Ide melahirkan kejuaraan sepak bola dunia tercetus pada 1904 di Paris saat Konggres I Fédération Internationale de Football Association. Pada 1928, hasil usaha FIFA dan presiden persatuan sepak bola Perancis (FFFA), Jules Rimet dan rekannya Henri Delaunay, peserta kongres di Amsterdam memutuskan untuk melaksanakan ide tersebut. Setahun kemudian, FIFA secara resmi mempersiapkan sebuah kejuaraan bernama World Cup yang akan berlangsung setiap empat tahun. Pada kongres FIFA 17-18 Mei 1929 yang berlangsung di Barcelona - Spanyol, Uruguay mendapatkan dukungan dari 23 peserta kongres menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama menyingkirkan ambisi Hungaria, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia. Piala kejuaraan ini dikenal dengan Piala Jules Rimet.

Piala Jules Rimet dibuat oleh perupa Perancis, Abel La Fleur, berbentuk oktagonal berlambangkan bumi dipegang oleh Dewa Kemenangan yang bernama Nike (dewa Yunani purba). Piala ini dibuat dari emas, mempunyai berat 3.8 kg dan tinggi 35 cm. Maka Piala Dunia FIFA yang pertama pun diadakan di Uruguay dan berlangsung dari 13-30 Juli 1930. 13 negara turut serta - enam dari Amerika Selatan, lima dari Eropa dan dua dari Amerika Utara. Uruguay mengalahkan Argentina 4-2 di hadapan 93.000 penonton di Montevideo dan sekaligus menjadi negara pertama yang merebut piala tersebut.

Selama Perang Dunia II kejuaraan ini terhenti selama selama 12 tahun, dimulai kembali tahun 1950 di Brasil. Piala Jules Rimet pernah dicuri sewaktu dipamerkan di Stampex Exhibition di Westminster Central Hall, London saat menjelangnya Piala Dunia 1966 di Inggris, namun ia ditemukan 7 hari kemudian oleh seekor anjing bernama Pickles. Pada 1970 di Meksiko, FIFA telah memutuskan Brasil menyimpan Piala Jules Rimet karena menjadi negara pertama yang juara sebanyak 3 kali, 1958, 1962 dan 1970.

Trofi Piala Dunia adalah piala emas yang dihadiahkan kepada pemenang Piala Dunia FIFA. Sejak Piala Dunia pertama kali digelar pada tahun 1930, sudah ada dua piala yang dibuat: Piala Jules Rimet dari 1930 sampai 1970, dan Trofi Piala Dunia FIFA dari 1974 sampai sekarang. Piala yang asli, awalnya dinamai Victory, namun kemudian diubah untuk menghormati presiden FIFA Jules Rimet, terbuat dari sterling silver yang dilapisi emas dan beralaskan lapis lazuli, dengan menggambarkan Nike, dewi Yunani yang melambangkan kemenangan. Brasil berhak menyimpan piala tersebut pada 1970, yang kemudian dibuatkan penggantinya. Piala Jules Rimet dicuri pada tahun 1983 dan tidak ditemukan lagi.

Pengganti Piala Jules Rimet ialah Trofi Piala Dunia FIFA. Piala ini dianugerahkan sejak tahun 1974 dan tidak seperti piala sebelumnya, pada tahun 2038 kelak piala ini tak dianugerahkan lagi, lalu akan disimpan di tempat pemenang terakhir. Badan induk FIFA kemudiannya membuat piala dunia baru dengan menggunakan emas 18 karat, 36 cm tinggi dan mempunyai berat 4.97 kg dan dirancang oleh perupa terkenal Italia, Silvio Gazzaniaga dan dipergunakan hingga sekarang. "Trofi Piala Dunia FIFA", diperkenalkan pada tahun 1974, terbuat dari emas 18 karat dan beralaskan malasit, menggambarkan dua sosok manusia memegang bumi. Pemegang piala saat ini adalah Spanyol, pemenang Piala Dunia 2010.

FIFA kemudian menetapkan hanya pemimpin negara dan pemenang Piala Dunia saja yang boleh menyentuh piala tersebut. Replika piala yang dilapis emas akan diberikan untuk disimpan oleh pemenang. Argentina, Jerman (kedua kali tersebut sebagai Jerman Barat), dan Brasil telah masing-masing memenangkan piala yang kedua itu dua kali. Meskipun begitu, piala yang saat ini masih belum akan "dipensiunkan" hingga plak namanya telah penuh diisikan dengan nama-nama negara pemenang, yang akan terjadi pada tahun 2038.

Dengan jelas secara keseluruhan Brasil adalah tim yang paling sukses dalam sejarah perhelatan Piala Dunia setelah lima kali menjadi juara dunia dan dua kali berada di posisi kedua, sementara Italia menyusul berada di bawahnya dengan empat kali menjadi juara dunia dan dua kali di peringkat kedua. Jerman menempati posisi berikutnya sebagai tim yang tersukses ketiga dengan tiga kali menjadi juara dunia dan empat kali menjadi juara kedua. Argentina dan Uruguay masing-masing dua kali menjadi juara dunia meski kemenangan Uruguay terjadi pada masa yang sudah lama, yakni pada awal-awal tahun kejuaraan perhelatan Piala Dunia ini.
Selengkapnya

Perjanjian Nonproliferasi Nuklir

Perjanjian Nonproliferasi Nuklir
Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (bahasa Inggris: Nuclear Non-Proliferation Treaty) adalah suatu perjanjian yang ditandatangi pada 1 Juli 1968 yang membatasi kepemilikan senjata nuklir. Sebagian besar negara berdaulat (187) mengikuti perjanjian ini, walaupun dua di antara tujuh negara yang memiliki senjata nuklir dan satu negara yang mungkin memiliki senjata nuklir belumlah meratifikasi perjanjian ini. Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia.

Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat. Pada tanggal 5 Maret 1970 Perjanjian Nonproliferasi Nuklir mulai berlaku. Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

- Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia.
- Pertama kali terbuka untuk penandatanganan pada 1 Juli 1968 di New York.
- Mulai berlaku sejak 5 Maret 1970 setelah diratifikasi oleh Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat, dan 40 negara lainnya.
- Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.

Negara-negara yang sampai saat ini masih terikat dengan perjanjian ini ialah:

Afganistan, Afrika Selatan, Republik Afrika Tengah, Albania, Aljazair, Amerika Serikat, Andorra, Angola, Antigua dan Barbuda, Arab Saudi, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Bahama, Bahrain, Bangladesh, Barbados, Belanda, Belarus, Belgia, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Bosnia dan Herzegovina, Botswana, Brasil, Britania Raya, Brunei, Bulgaria, Burkina Faso, Burundi.

Republik Ceko, Chad, Chili, Denmark, Djibouti, Dominika, Ekuador, El Salvador, Eritrea, Estonia, Ethiopia, Fiji, Filipina, Finlandia, Gabon, Gambia, Georgia, Ghana, Grenada, Guatemala, Guinea Khatulistiwa, Guinea, Guinea-Bissau, Guyana, Haiti, Honduras, Hungaria, Indonesia, Irak, Iran, Irlandia, Islandia, Italia, Jamaika, Jepang, Jerman, Kamboja, Kamerun, Kanada, Kazakhstan, Kenya, Kiribati, Komoro, Kolombia, Korea Selatan, Korea Utara, Kosta Rika, Kroasia, Kuba, Kuwait, Kyrgyzstan.

Laos, Latvia, Lebanon, Lesotho, Liberia, Libya, Liechtenstein, Lithuania, Luxemburg, Madagaskar, Makedonia, Maladewa, Malawi, Malaysia, Mali, Malta, Maroko, Republik Kepulauan Marshall, Mauritania, Mauritius, Meksiko, Mesir, Federasi Mikronesia, Moldova, Monako, Mongolia, Montenegro, Mozambik, Myanmar, Namibia, Nauru, Nepal, Niger, Nigeria, Nikaragua, Norwegia, Oman, Palau, Panama, Pantai Gading, Papua Nugini, Paraguay, Peru, Polandia, Portugal, Perancis.

Qatar, Republik Demokrasi Kongo, Republik Dominika, Republik Kongo, Republik Rakyat Cina, Rumania, Rusia, Rwanda, Saint Kitts dan Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent dan the Grenadines, Samoa, San Marino, São Tomé dan Príncipe, Selandia Baru, Senegal, Serbia, Seychelles, Sierra Leone, Singapura, Siprus, Slovakia, Slovenia, Kepulauan Solomon, Somalia, Spanyol, Sri Lanka, Sudan, Suriname, Swaziland, Swedia, Swiss, Syria.

Taiwan, Tanjung Verde, Tajikistan, Tanzania, Thailand, Timor Timur, Togo, Tonga, Trinidad dan Tobago, Tunisia, Turki, Turkmenistan, Tuvalu, Uganda, Ukraina, Uni Emirat Arab, Uruguay, Uzbekistan, Vanuatu, Vatikan, Venezuela, Vietnam, Yaman, Yordania, Yunani, Zambia, Zimbabwe.

Korea Utara merupakan anggota NPT dari 12 Desember 1985 sampai 10 April 2003.

Catatan

Republik Cina di Taiwan termasuk negara yang pertama menandatangani NPT, namun dikeluarkan dari PBB pada tahun 1971. Walaupun Taiwan tidak lagi tergabung dalam PBB, Pemerintah Taiwan menyatakan tetap akan ikut dalam perjanjian tersebut.
Sejak masih berbentuk Uni Soviet.
Sejak masih berbentuk Yugoslavia. Statusnya dalam perjanjian ini sekarang kurang jelas, menyusul berpisahnya Serbia dan Montenegro.
Sejak masih berbentuk Republik Arab Yaman dan Republik Demokrasi Rakyat Yaman.

Keluar Dari Perjanjian

Pasal X membolehkan sebuah negara untuk mundur dari perjanjian jika terjadi “hal-hal penting, yang berhubungan dengan subjek perjanjian ini, telah mengacaukan kepentingan utama negara tersebut”, memberikan pemberitahuan 3 bulan sebelumnya. Dan negara tersebut harus memberikan alasannya keluar dari perjanjian ini.

Negara-negara anggota NATO mengatakan jika salah satu negara anggotanya berperang, maka perjanjian ini tidak lagi berlaku. Artinya negara tersebut dapat keluar tanpa pemberitahuan. Argumen ini dibutuhkan untuk mendukung kesepakatan “senjata nuklir bersama” NATO, namun sebenarnya bertolakbelakang dengan Perjanjian Non-Proliferasi ini.

Isi Perjanjian - Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

1. Pokok Pertama: Non-Proliferasi

Terdapat 5 negara yang diperbolehkan oleh NPT untuk memiliki senjata nuklir:

Perancis (masuk tahun 1992)
Republik Rakyat Cina (1992)
Uni Soviet (1968, kewajiban dan haknya diteruskan oleh Rusia)
Britania Raya (1968)
Amerika Serikat (1968)

Hanya lima negara ini yang memiliki senjata nuklir saat perjanjian ini mulai dibuka, dan juga termasuk lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Lima negara pemilik senjata nuklir (Nuclear Weapon States / NWS) ini setuju untuk tidak mentransfer teknologi senjata nuklir maupun hulu ledak nuklir ke negara lain, dan negara-negara non-NWS setuju untuk tidak meneliti atau mengembangkan senjata nuklir.

Kelima negara NWS telah menyetujui untuk tidak menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non-NWS, kecuali untuk merespon serangan nuklir atau serangan konvensional yang bersekutu dengan negara NWS. Namun, persetujuan ini belum secara formal dimasukkan dalam perjanjian, dan kepastian-kepastian mengenainya berubah-ubah sepanjang waktu. Amerika Serikat telah mengindikasikan bahwa mereka akan dapat menggunakan senjata nuklir untuk membalas penyerangan non-konvensional yang dilakukan oleh negara-negara yang mereka anggap “berbahaya”. Mantan Menteri Pertahanan Inggris, Geoff Hoon, juga telah menyatakan secara eksplisit mengenai kemungkinan digunakannya senjata nuklir untuk membalas serangan seperti itu. Pada Januari 2006, Presiden Perancis, Jacques Chirac menerangkan bahwa sebuah serangan teroris ke Perancis, jika didalangi oleh sebuah negara, akan memicu pembalasan nuklir (dalam skala kecil) yang diarahkan ke pusat kekuatan “negara-negara berbahaya” tersebut.

2. Pokok Kedua : Perlucutan

Pasal VI dan Pembukaan perjanjian menerangkan bahwa negara-negara NWS berusaha mencapai rencana untuk mengurangi dan membekukan simpanan mereka. Pasal VI juga menyatakan “…Perjanjian dalam perlucutan umum dan lengkap di bawah kendali internasional yang tegas dan efektif.” Dalam Pasal I, negara-negara pemilik senjata nuklir (NWS) menyatakan untuk tidak “membujuk negara non-Nuklir manapun untuk…mendapatkan senjata nuklir.” Doktrin serangan pre-emptive dan bentuk ancaman lainnya bisa dianggap sebagai bujukan / godaan oleh negara-negara non-NWS. Pasal X menyatakan bahwa negara manapun dapat mundur dari perjanjian jika mereka merasakan adanya “hal-hal aneh”, contohnya ancaman, yang memaksa mereka keluar.

3. Pokok Ketiga : Hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

Karena sangat sedikit dari negara-negara NWS dan negara-negara pengguna energi nuklir yang mau benar-benar membuang kepemilikan bahan bakar nuklir, pokok ketiga dari perjanjian ini memberikan negara-negara lainnya kemungkinan untuk melakukan hal yang sama, namun dalam kondisi-kondisi tertentu yang membuatnya tidak mungkin mengembangkan senjata nuklir.

Bagi beberapa negara, pokok ketiga perjanjian ini, yang memperbolehkan penambangan uranium dengan alasan bahan bakar, merupakan sebuah keuntungan. Namun perjanjian ini juga memberikan hak pada setiap negara untuk menggunakan tenaga nuklir untuk kepentingan damai, dan karena populernya pembangkit tenaga nuklir yang menggunakan bahan bakar uranium, maka perjanjian ini juga menyatakan bahwa pengembangan uranium maupun perdagangannya di pasar internasional diperbolehkan. Pengembangan uranium secara damai dapat dianggap sebagai awal pengembangan hulu ledak nuklir, dan ini dapat dilakukan dengan cara keluar dari NPT. Tidak ada negara yang diketahui telah berhasil mengembangkan senjata nuklir secara rahasia, jika dalam pengawasan NPT.

Negara-negara yang telah menandatangani perjanjian ini sebagai negara non-senjata nuklir dan mempertahankan status tersebut memiliki catatan baik untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Di beberapa wilayah, fakta bahwa negara-negara tetangga bebas dari senjata nuklir mengurangi tekanan bagi negara tersebut untuk mengembangkan senjata nuklir sendiri, biarpun negara tetangga tersebut diketahui memiliki program tenaga nuklir damai yang bisa memicu kecurigaan. Dalam hal ini, perjanjian Non-Proliferasi bekerja sebagaimana mestinya.

Mohamed ElBaradei, ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), mengatakan bahwa jika negara-negara itu mau, 40 negara dapat mengembangkan sebuah bom nuklir.
Selengkapnya

Badai Siklon Bhola di Bangladesh

Badai Siklon Bhola di Bangladesh
Badai Siklon Bhola 1970 adalah siklon tropis mematikan yang menyerang Pakistan Timur atau kini Bangladesh dan Benggala Barat India pada tanggal 12 November 1970. Siklon ini merupakan siklon tropis paling mematikan. Lebih dari 500.000-1.000.000 orang tewas, terutama akibat gelombang badai yang membanjiri sebagian besar dataran rendah pulau-pulau di Delta Gangga. Pemerintah Pakistan yang dipimpin oleh pemimpin Junta, Jenderal Yahya Khan dikritik berat untuk penanganan tertunda dari operasi bantuan setelah badai, baik oleh para pemimpin politik lokal di Pakistan Timur dan di media internasional. Oposisi Liga Awami memperoleh kemenangan telak di provinsi ini, dan kerusuhan berlanjut antara Pakistan Timur dan pemerintah pusat memicu Perang Pembebasan Bangladesh, yang menyebabkan kekejaman yang meluas yang berakhir dengan pembentukan negara Bangladesh.

13 November 1970 - Badai Bhola : sebuah siklon tropis dengan kecepatan 190 km/jam menghantam kawasan Delta Gangga yang padat penduduknya di Pakistan Timur (kini Bangladesh), menewaskan sekitar 500.000 jiwa. Badai ini dianggap sebagai musibah badai terburuk pada abad ke-20. Badai yang intensif menjadi parah berhubung dengan topan badai pada 11 November dan mulai berbelok ke arah timur laut karena mendekati kepala teluk. Yang jelas mata dibentuk dalam badai, dan pernah mencapai puncaknya yang kemudian hari dengan angin yang berkesinambungan dari 185 km/h (115 mph) dan tekanan pusat 966 hPa, setara dengan angin topan Kategori 3 di Skala Saffir-Simpson Hurricane. Topan membuat pendaratan di pantai Pakistan Timur pada sore tanggal 12 November, sekitar waktu yang sama dengan air pasang lokal. Setelah atas tanah, sistem mulai melemah tetapi masih dianggap sebagai topan badai pada 13 November ketika itu sekitar 100 km (62 mil) selatan-tenggara dari Agartala. Badai kemudian melemah dengan cepat ke area sisa tekanan rendah di atas selatan Assam malam itu.

Dalam meteorologi, siklon tropis (atau hurikan, angin puyuh, badai tropis, taifun, atau angin ribut tergantung pada daerah dan kekuatannya) adalah sebuah jenis sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis. Sementara angin sejenisnya bisa bersifat destruktif tinggi, siklon tropis adalah bagian penting dari sistem sirkulasi atmosfer, yang memindahkan panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi. Daerah pertumbuhan siklon tropis paling subur di dunia adalah Samudra Hindia dan perairan barat Australia. Sebagaimana dijelaskan Biro Meteorologi Australia, pertumbuhan siklon di kawasan tersebut mencapai rerata 10 kali per tahun. Siklon tropis selain menghancurkan daerah yang dilewati, juga menyebabkan banjir. Australia telah mengembangkan peringatan dini untuk mengurangi tingkat risiko ancaman siklon tropis sejak era 1960-an.

Pemerintah India menerima laporan banyak kapal dari Teluk Benggala yang memberikan informasi meteorologi pada topan, tetapi sebagai Indo-Pakistan hubungan umumnya bermusuhan, informasi itu tidak disampaikan kepada pemerintah Pakistan. Ada indikasi bahwa sistem peringatan badai yang ada di Pakistan Timur tidak digunakan dengan benar, yang mungkin memiliki biaya puluhan ribu nyawa. Departemen Meteorologi Pakistan mengeluarkan laporan menyerukan "kesiapan bahaya" di daerah pesisir dalam bahaya siang hari pada 12 November. Sebagai badai mendekati pantai, sebuah "bahaya sinyal besar" disiarkan di Radio Pakistan. Korban kemudian mengatakan bahwa ini berarti sedikit untuk mereka, tetapi mereka telah mengakui Nomor 1 sinyal peringatan mewakili ancaman terbesar yang mungkin. Diperkirakan bahwa 90% dari penduduk di daerah menyadari topan sebelum memukul, tapi hanya sekitar 1% mencari perlindungan dalam struktur benteng.

Pesisir Teluk Benggala sangat rentan terhadap efek dari siklon tropis, dan ada sedikitnya enam badai menghantam daerah yang menewaskan lebih dari 100.000 orang. Tahun 1970 Bhola siklon tidak yang paling kuat ini, namun, pada tahun 1991 Bangladesh siklon secara signifikan lebih kuat ketika mendarat di daerah umum yang sama dengan 250 km/h (160 mph) angin, Kategori high-end 4. Siklon 1970 adalah tetap pada siklon tropis paling mematikan dan merupakan salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah. Jumlah korban tewas yang tepat tidak akan pernah diketahui, tetapi diperkirakan bahwa antara 300.000 dan 500.000 orang kehilangan nyawa mereka. Sejumlah sebanding orang meninggal akibat gempa bumi Tangshan 1976 dan gempa bumi Samudra Hindia 2004, tapi. Karena ketidakpastian dalam jumlah kematian di ketiga bencana, tidak pernah bisa diketahui mana yang paling mematikan.

Radio Pakistan melaporkan bahwa tidak ada yang selamat pada 13 pulau di dekat Chittagong. Sebuah penerbangan di wilayah menunjukkan kerusakan itu selesai sepanjang paruh selatan Bhola Island, dan tanaman padi dari Pulau Bhola, Hatia Pulau dan garis pantai daratan di dekatnya hancur. Beberapa kapal layar di pelabuhan Chittagong dan Mongla adalah dilaporkan rusak, dan bandara di Chittagong dan Cox Bazar berada di bawah 1 m (3,3 ft) air selama beberapa jam. Lebih dari 3,6 juta orang yang secara langsung terkena dampak topan, dan kerusakan total dari badai diperkirakan $ 86.400.000 (1970 USD, $ 450,000,000 2006 USD). Para korban menyatakan bahwa sekitar 85% dari rumah di daerah tersebut hancur atau rusak parah, dengan kerusakan terbesar terjadi di sepanjang pantai. Sembilan puluh persen dari nelayan laut di wilayah tersebut. mengalami kerugian besar, termasuk penghancuran 9.000 perahu nelayan lepas pantai. Dari 77.000 nelayan darat, 46.000 tewas akibat topan, dan 40% dari korban yang terkena dampak parah.

Secara total, sekitar 65% dari kapasitas nelayan di wilayah pesisir dihancurkan oleh badai, di daerah di mana sekitar 80% dari protein yang dikonsumsi berasal dari ikan. Kerusakan pertanian adalah sama berat dengan hilangnya sebesar $ 63 juta senilai tanaman dan 280.000 ternak. Tiga bulan setelah badai, 75% dari penduduk menerima makanan dari para pekerja bantuan, dan lebih dari 150.000 diandalkan bantuan untuk separuh dari makanan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi untuk pria dewasa usia 15-49, sedangkan lebih dari separuh kematian anak-anak di bawah sepuluh, yang hanya membentuk sepertiga dari penduduk pra-badai. Ini menunjukkan bahwa kaum muda, tua dan sakit secara selektif hilang dalam badai dan gelombang nya. Dalam bulan-bulan setelah badai, mortalitas setengah baya lebih rendah di daerah topan daripada di daerah kontrol, dekat Dhaka. Ini tercermin penghapusan individu-individu yang kurang sehat selama badai.

Para pemimpin politik di Pakistan Timur yang sangat penting dari respon awal pemerintah pusat untuk bencana. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh sebelas pemimpin politik di Pakistan Timur sepuluh hari setelah topan menghantam dibebankan pemerintah dengan "mengabaikan kotor, ketidakpedulian berperasaan dan ketidakpedulian mengucapkan". Mereka juga menuduh presiden dari bermain menuruni liputan berita. Pada tanggal 19 November, para siswa mengadakan pawai di Dhaka memprotes kecepatan respon pemerintah, dan Maulana Abdul Hamid Khan Bhashani ditujukan reli dari 50.000 orang pada tanggal 24 November, ketika ia menuduh presiden inefisiensi dan menuntut pengunduran dirinya. Lawan politik presiden menuduhnya ceroboh upaya dan beberapa menuntut pengunduran dirinya.

Penanganan pemerintah terhadap upaya bantuan membantu memperburuk kepahitan dirasakan di Pakistan Timur, pembengkakan gerakan perlawanan di sana. Dana hanya perlahan-lahan berhasil melewati, dan transportasi lambat dalam membawa pasokan ke daerah bencana. Sebagai ketegangan meningkat pada bulan Maret, personil asing dievakuasi karena takut kekerasan. Situasi semakin memburuk dan berkembang menjadi Bangladesh Liberation War pada bulan Maret. Konflik ini melebar ke dalam Perang Indo-Pakistan tahun 1971 pada bulan Desember dan diakhiri dengan penciptaan Bangladesh. Ini adalah salah satu yang pertama kali bahwa peristiwa alam membantu untuk memicu perang saudara.

Dalam 30 tahun setelah topan 1970, lebih dari 200 tempat penampungan siklon dibangun di daerah pesisir Bangladesh. Ketika topan merusak berikutnya mendekati negara pada tahun 1991, relawan dari Program Kesiapsiagaan Cyclone memperingatkan orang-orang dari siklon dua sampai tiga hari sebelum menghantam tanah. Lebih dari 350.000 orang meninggalkan rumah mereka ke tempat penampungan dan struktur bata lainnya, sementara yang lain mencari tempat yang tinggi. Sementara topan menewaskan lebih dari 1.991 138.000 orang, ini adalah jauh lebih kecil daripada badai 1970, sebagian karena peringatan dikirim oleh Program Kesiapsiagaan Cyclone. Namun, badai tahun 1991 adalah signifikan lebih merusak, menyebabkan 1,5 miliar dolar dalam kerusakan (2 miliar inflasi-disesuaikan) dibandingkan dengan 86,4 juta badai tahun 1970-an dolar dalam kerusakan (disesuaikan dengan inflasi: 480 juta).
Selengkapnya