Hari Perempuan   Women Day

blogger counters


Insiden 13 Mei - Kerusuhan Mei 1998

Insiden 13 Mei - Kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan atau huru-hara terjadi kala sekelompok orang berkumpul bersama untuk melakukan tindak kekerasan, biasanya sebagai tindak balas terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil ataupun sebagai upaya penentangan terhadap sesuatu. Alasan yang sering menjadi penyebab kerusuhan termasuk kondisi hidup yang buruk, penindasan pemerintah terhadap rakyat, konflik agama atau etnis, serta hasil sebuah pertandingan olahraga.

Insiden 13 Mei adalah istilah untuk kerusuhan rasial antara etnis Tionghoa dan orang Melayu yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia pada 13 Mei 1969 yang menyebabkan sedikitnya 184 orang meninggal. Pada 1963, Malaysia menderita akibat ketimpangan kekayaan antara golongan keturunan Tionghoa yang umumnya pedagang, yang menguasai sebagian besar ekonomi Malaysia, dengan golongan miskin, penduduk Melayu. Selain itu, orang Tionghoa juga menguasai sebagian besar kekayaan negara.

Kerusuhan rasial di Singapura pada 1964 juga merupakan salah satu penyebab keluarnya negara itu dari Malaysia (dulunya Singapura merupakan bagian dari Malaysia), dan ketegangan rasial terus berlangsung. Kebanyakan orang Melayu tidak puas dengan negara yang baru saja merdeka itu yang berkeinginan untuk menenangkan etnis Tionghoa dengan pengeluaran mereka.

Pada pemilihan umum 10 Mei 1969, koalisi Aliansi yang memerintah diketuai oleh United Malays National Organization (UMNO) menderita kekalahan besar. Partai terbesar golongan Tionghoa Democratic Action Party dan Gerakan mendapat suara dalam pemilihan, dan berhak untuk mengadakan pawai kemenangan melalui jalur yang telah ditetapkan di Kuala Lumpur. Namun, pawai yang berisik dan kasar dan menyimpang dari jalurnya dan mengarah ke distrik Melayu Kampong Bahru, mengolok penduduknya.

Meskipun Partai Gerakan mengeluarkan permintaan maaf keesokan harinya, UMNO mengumumkan pawai tandingan mulai dari kepala negeri Selangor Dato' Harun bin Idris di Jalan Raja Muda. Dilaporkan, masyarakat yang berkumpul diberi tahu bahwa suku Melayu yang menuju ke prosesi telah diserang oleh suku Tionghoa di Setapak, beberapa mil di utara. Para pemrotes yang marah dengan cepat mengadakan pembalasan dengan membunuh dua pengendara sepeda motor yang lewat, dan kerusuhan pun meledak.

Ketika kerusuhan berlangsung pengeras suara di masjid-masjid digunakan untuk mendorong para perusuh untuk melanjutkan aksi mereka. Perusuh mulai beraksi di ibukota Kuala Lumpur dan wilayah sekitar negeri Selangor, dengan pengecualian gangguan kecil di Melaka tempat lain di negara tersebut tetap tentram. Keadaan darurat nasional dan jam malam diumumkan pada 16 Mei tetapi jam malam dikurangi di beberapa bagian di negara tersebut pada 18 Mei dan dihilangkan dalam waktu seminggu di pusat Kuala Lumpur.

Menurut data polisi, 184 orang meninggal dan 356 terluka, 753 kasus pembakaran dicatat dan 211 kendaraan hancur atau rusak berat. Sumber lain menyebutkan jumlah yang meninggal sekitar 196 orang atau bahkan lebih dari 200 orang. Beberapa memperkirakan jumlah kematian bahkan mencapai 700 orang sebagai akibat dari kerusuhan.

Kesimpulan - Ternyata keputusan Tunku Abdul Rahman dengan mengeluarkan Singapura dari Malaysia tidak menyelesaikan masalah ras. Peristiwa 13 Mei 1969 merupakan puncak kemarahan lama orang Melayu karena mereka miskin di tanah air mereka sendiri. Pada tahun 1969 pemilu diadakan kembali dan partai yang berkuasa memenangi 2/3 dari semua kursi.

Barisan Nasional dibentuk - Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dibentuk untuk mengurangkan jumlah pemilih Tionghoa dalam Dewan Undangan Negeri Selangor. Beberapa tokoh politik yang dianggap berbahaya telah ditahan melalui Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA). Batas-batas dalam pemilu yang lebih bijaksana dan seimbang dilaksanakan. Sistem demokrasi, pemilu dan pembagian kue ekonomi nasional ditafsirkan kembali dan dibagi secara lebih adil.

Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.

Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht di Jerman pada tanggal 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal yang sistematis atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi. Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.

Pengusutan dan penyelidikan - Tidak lama setelah kejadian berakhir dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini. TGPF ini mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF". Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan, TGPF menemukan bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatar belakang militer. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan ini. Pada 2004 Komnas HAM mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004 belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.

Penuntutan Amandemen KUHP - Pada bulan Mei 2010, Andy Yentriyani, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat di Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), meminta supaya dilakukan amandemen terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Menurut Andy, Kitab UU Hukum Pidana hanya mengatur tindakan perkosaan berupa penetrasi alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan. Namun pada kasus Mei 1998, bentuk kekerasan yang terjadi sangat beragam. Sebanyak 85 korban saat itu (data Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998), disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam, anal, dan oral. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut belum diatur dalam pasal perkosaan Kitab UU Hukum Pidana.
Selengkapnya

Golda Meir PM Wanita Pendiri Israel

Golda Meir
Golda Meir (lahir Golda Mabovitz; pada lahir 3 Mei 1898 – meninggal 8 Desember 1978 pada umur 80 tahun) adalah salah seorang pendiri negara Israel. Meir pernah menjabat sebagai Menteri Perburuhan, Menteri Luar Negeri, dan Perdana Menteri keempat Israel pada periode 17 Maret 1969 - 3 Juni 1974. Pada tanggal 17 Maret 1969 Golda Meir menjadi perempuan pertama yang menjabat Perdana Menteri Israel. Sebagaimana dikatakan oleh BBC, Golda Meir adalah "Wanita Besi" dalam politik Israel jauh sebelum ungkapan itu diciptakan untuk Margaret Thatcher. David Ben-Gurion pernah menggambarkannya sebagai "satu-satunya lelaki di dalam Kabinet (Israel)." Ia adalah perempuan pertama (dan hingga kini satu-satunya) yang menjadi Perdana Menteri Israel, dan PM perempuan ketiga di dunia.

Meir lahir dengan nama Golda Mabovitch, di Kiev, Imperium Rusia (kini Ukraina), dari pasangan Blume Naiditch dan Moshe Mabovitz. Ia menulis dalam otobiografinya bahwa kenangan yang paling awal ialah tentang ayahnya yang melapisi pintu depan rumahnya ketika mendengar desas-desus tentang akan segera terjadinya pogrom. Kondisi kehidupan di Daerah Pemukiman sangat berat. Ia dan kedua saudara perempuannya (Sheyna dan Tzipke) seringkali kelaparan dan kedinginan. Kelima saudaranya yang lain telah meninggal dunia di masa kecil mereka. Gola khususnya sangat menghormati Sheyna. Ayahnya pergi ke Amerika Serikat pada 1903, sementara sisa keluarganya menetap di Pinsk. Kakak Gola tertua terlibat dalam kegiatan revolusioner Zionis, yang membahayakannya. Hal itu sangat mengesankan Golda yang masih muda, namun seluruh keluarganya didorong untuk mengikuti jejak Moshe ke Amerika Serikat pada 1906.

Keluarga ini menetap di Milwaukee, Wisconsin. Di sana, ayah Golda bekerja sebagai seorang tukang kayu, dan ibunya membuka sebuah toko kebutuhan rumah tangga. Ketika Golda baru berumur delapan tahun, ia harus mengawasi toko sebentar setiap pagi, sementara ibunya membeli pasokan di pasar. Golda Meir belajar di Sekolah Fourth Street (kini namanya diganti menjadi Sekolah Golda Meir) di seberang kompleks pabrik bir Schlitz dari 1906 hingga 1912. Di situlah ia pertama kali melaksanakan proyek pekerjaan masyarakat, dengan mengorganisir sebuah acara pencarian dana untuk membayar buku-buku pelajaran teman-teman kelasnya. Setelah membentuk American Young Sisters Society, ia menyewa sebuah aula dan menjadwalkan sebuah rapat umum untuk pencarian dananya itu. Meskipun ketika pertama masuk sekolah Golda tidak mengenal bahasa Inggris, ia lulus sebagai siswa terbaik dan berhak menyampaikan sambutan perpisahannya.

Ketika berusia 14 tahun, ia belajar di SMA North Division dan bekerja sambilan untuk membiayai ongkosnya. Ibunya menyarankan agar ia berhenti sekolah dan bekerja serta menikah. Golda memberontak dan melarikan diri ke Denver, Colorado, tempat tinggal kakaknya, Sheyna. Ia tinggal selama sekitar setahun di sebuah rumah petak di 1606 Julian Street. Golda masuk ke SMA North di sana dan bertemu dengan Morris Meyerson, seorang tukang cat papan reklame, dan belakangan menikah dengannya. Pada 1913 Golda kembali ke Milwaukee dan mendaftar kembali ke SMA North Division, lulus pada 1915. Sementara di sana, ia aktif sebagai anggota gerakan pemuda, Habonim. Ia ikut serta dalam rapat-rapat dan seringkali membela Zionisme Sosialis dalam pidato-pidatonya. Seringklai ia menerima tamu-tamu dari daerah Palestina. Setelah lulus dari Milwaukee State Normal School (kini Universitas Wisconsin–Milwaukee), ia mengajar di sekola-sekolah negeri. Ia resmi bergabung dengan Organisasi Buruh Zionis pada 1915. Golda dan Morris menikah pada 1917 dan mulai merencanakan melakukan aliyah (emigrasi ke tanah Israel, yang saat itu bagian dari provinsi Ottoman). Pasangan itu, dan kakak perempuan Golda, Sheyna, beremigrasi ke Palestina Mandat Britania pada 1921.

Golda dan Morris ingin bergabung dengan sebuah kibbutz. Golda mengajukan permohonan bergabung dengan Kibbutz Merhavia, pertama-tama ditolak, namun akhirnya diterima. Tugasnya di sana termasuk memetik buah almond, menanam pohon, memelihara ayam, dan mengelola dapur. Ia juga mulai muncul sebagai pemimpin. Kibbutznya memilihnya untuk mewakili mereka di Histadrut, Federasi Umum Buruh. Pada 1924, suaminya sudah bosan dengan kehiudpan di kibbutz, dan pasangan itu pun pergi dari sana. Mereka tinggal sejenak di Tel Aviv, kemudian menetap di Yerusalem. Di sana mereka mendapatkan dua orang anak, Menachem, seorang anak lelaki, dan Sarah, anak perempuan. Pada 1928, Golda terpilih sebagai sekretaris Dewan Buruh Perempuan di Histadrut. Hal ini menuntutnya pindah ke Tel Aviv, tetapi suaminya tetap tinggal di Yerusalem sementara kedua anaknya ikut dengan Golda. Hubungan Morris dan Golda merenggang, namun mereka tak pernah bercerai. Morris meninggal pada 1951. Golda semakin berpengaruh di Histadrut, yang berkembang menjadi sebuah pemerintah bayangan untuk Israel yang segera akan terbentuk. Pada 1946, Britania menindak gerakan Zionis di Palestina, menangkapi banyak pemimpinnya. Namun Golda tak pernah ditangkap. Ia perlahan-lahan makin bertanggung jawab atas organisasi. Ia berunding dengan Britania, tetapi juga tetap menjaga hubungannya dengan gerakan gerilya yang kian berkembang.

Golda Meir adalah salah satu dari ke-24 orang (dan satu di antara hanya dua perempuan) yang menandatangani Deklarasi Pembentukan Negara Israel pada 14 Mei 1948. Ia belakangan mengenang, "Setelah menandatanganinya, saya menangis. Ketika asya belajar sejarah Amerika sebagai seorang murid sekolah, dan saya membaca tentang orang-orang yang menandangani Deklarasi Kemerdekaan, saya tidak dapat membayangkan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang sungguhan, yang melakukan sesuatu yang sungguhan. Dan di situ saya duduk dan menandatangani deklarasi pembentukan sebuah negara." Hari berikutnya, Israel diserang oleh sebuah pasukan gabungan dari Mesir, Suriah, Lebanon, Transyordan, dan Irak. Golda memperoleh paspor Israel pertama dan pergi ke Amerika Serikat untuk mengumpulkan dana untuk negara yang baru itu.

Sekembalinya, ia diangkat menjadi duta beasr pertama untuk Uni Soviet. Ia bertugas di sana sebentar, berangkat pada 1949. Ketika ia tinggal di Moskwa, ia menghadiri upacara-upacara hari-hari raya Yahudi dan dikerumuni oleh ribuan orang Yahudi Rusia yang berseru-seru menyebutkan namanya. Penindasan Stalin atas identitas Yahudi di Uni Soviet membuat banyak pengamat bertanya-tanya apakah masih ada perasaan komunitas di antara masyarakat Yahudi di sana, tetapi sambutan khalayak itu memberikan jawabannya. Foto di belakang lembaran uang syikalIsrael melukiskan kerumunan di Moskwa yang mengelilinginya dan mengangkatnya dengan suka cita. Golda Meir kemudian menjadi anggota Knesset (Parlemen Israel), dan menjabat terus-menerus hingga 1974.

Dari 1949 hingga 1956, Meir menjadi Menteri Perburuhan Israel. Pada 1956, ia menjadi Menteri Luar Negeri di bawah Perdana Menteri David Ben-Gurion. Menteri Luar Negeri sebelumnya, Moshe Sharett, telah memerintahkan agar semua anggota dinas luar negeri mengibranikan nama keluarga mereka. Golda mengabaikan perintah itu ketika ia masih menjadi duta beasr, tetapi kini setelah ia menjadi Menteri Luar Negeri, Ben-Gurion meminta Golda mengganti namanya dengan sebuah nama Ibrani. Ia memilih Meir, yang berarti "bersinar." Pada awal 1960-an didiagnosis menderita limfoma. Ia menyembunyikannya, karena khawatir bahwa orang lain akan menganggapnya tidak layak berdinas. Ia mengundurkan diri dari Kabinet pada 1965, dengan alasan sakit dan kelelahan setelah bertahun-tahun berdinas. Mulanya ia kembali ke kehidupan yang sederhana, namun ia segera dipanggil kemblai berdinas. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Buruh selama delapan bulan lalu pensiun lagi paa 1 Agustus 1968.

Setelah Levi Eshkol meninggal dunia secara tiba-tiba pada 26 Februari 1969, partai memilih Meir untuk menggantikannya sebagai Perdana Menteri. Meir kembali aktif berdinas pada 17 Maret dan menjabat sebagai Perdana Menteri hingga 1974. Ketika Meir naik ke kursi Perdana Menteri, Israel diliputi oleh rasa percaya diri, karena baru menang telak atas negara-negara Arab dan merebut banyak wilayah dalam Perang Enam Hari. Namun demikian, Meir harus menghadapi tembakan terus-menerus oleh Mesir terhadap pasukan-pasukan Israel di sepanjang Terusan Suez dalam Perang Perlahan-lahan.

Setelah pembantaian München pada Olimpiade Musim Panas 1972, Meir mengimbau kepada dunia untuk "menyelamatkan warga kami dan mengutup tindakan-tindakan kriminal yang tak terlukiskan itu." Meir dan Komisi Pertahanan Israel merasa bahwa dunia tidak cukup menanggapi dan karenanya memberikan wewenang kepada Mossad untuk membunuh anggota-anggota operasi September Hitam dan PFLP di manapun juga mereka ditemukan(Morris 1999). Film TV 1986 Sword of Gideon, berdasarkan buku Vengeance oleh George Jonas, dan film Steven Spielberg Munich (2005) sedikit banyak didasarkan pada kejadian-kejadian ini.

Pada masa-masa menjelang Perang Yom Kippur, intelijen Israel tidak dapat menentukan dengan tepat bahwa serangan akan dilaksanakan, hingga sehari sebelum perang dimulai. Enam jam sebelum serangan terjadi, Meir bertemu dengan Moshe Dayan dan jenderal Israel David Elazar. Sementara Dayan terus berpendapat bahwa perang tak mungkin terjadi, Elazar menganjurkan dilakukannya serangan pendahuluan terhadap pasukan-pasukan Suriah.

Meir percaya bahwa Israel tak dapat bergantung pada negara-negara Eropa untuk pasokan perlengkapan militer Israel karena negara-negara itu diancam embargo minyak dan boikot perdagangan oleh pihak Arab. Akibatnya, satu-satunya negara yang dapat membantu Israel adalah Amerika Serikat. Khawatir bahwa AS tak akan bersedia ikut campur bila Israel dianggap memulai serangan itu, akhirnya Meir memutuskan untuk tidak melakukan serangan pendahuluan. Di kemudian hari, langkah ini dianggap bijaksana. Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger belakangan mengukuhkan pertimbangan Meir dengan mengatakan bahwa bila Israel telah melakukan serangan pendahuluan, negara itu tidak akan mendapatkan "begitu banyak bantuan melainkan hanya sebuah paku." Keputusan Meir mungkin menentukan dalam menjadikan Operasi Rumput Nikel secara politis dapat dilakukan oleh AS.

Pengunduran diri - Setelah Perang Yom Kippur 1973, pemerintahan Meir terganggu oleh pertikaian intern di antara partai-partai koalisi yang berkuasa dan harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serius tentang kekeliruan penilaian yang strategis serta kurangnya kepemimpinan umum yang menyebabkan ketidaksiapan pada permulaan Perang Yom Kippur. Pada 11 April 1974, Golda Meir mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri dan digantikan oleh Yitzhak Rabin pada 3 Juni 1974. Pada 8 Desember 1978, Golda Meir meninggal karena kanker di Yerusalem pada usia 80 tahun. ia dimakamkan di Bukit Herzl, di Yerusalem.
Selengkapnya

Ledakan Kapal USS Enterprise (CVN-65)

Ledakan Kapal USS Enterprise (CVN-65)
USS Enterprise (CVN-65), sebelumnya CVA(N)-65, adalah pengangkut pesawat bertenaga nuklir pertama di dunia dan kapal Amerika Serikat ke-8 yang menggunakan nama USS Enterprise. Seperti pendahulunya, kapal ini dijuluki "Big E." Enterprise kini berada di Norfolk, Virginia. USS Enterprise (CVN-65), adalah kapal induk pertama di dunia bertenaga nuklir milik Amerika Serikat. Seperti pendahulunya Perang Dunia II ketenaran, dia dijuluki "Big E". Pada 1123 ft (342 m), dia adalah terpanjang kapal angkatan laut di dunia. 93.284 Her ton panjang (94.781 t) perpindahan peringkat dirinya sebagai 11-terberat SuperCarrier , setelah 10 pembawa kelas Nimitz . Perusahaan memiliki awak dari beberapa 4.600 orang. Pada tanggal 14 Januari 1969 terjadi Ledakan dekat Hawaii yang menewaskan 27 orang.

Kapal-satunya kelasnya, Enterprise adalah kapal tertua kedua bintara di Angkatan Laut Amerika Serikat setelah kayu- dikuliti Konstitusi USS. Dia awalnya dijadwalkan untuk dekomisioning pada tahun 2014 atau 2015, tergantung pada kehidupan reaktor dan penyelesaian penggantinya, USS Gerald R. Ford (CVN-78). Tetapi Otorisasi Undang-Undang Pertahanan Nasional Tahun Anggaran 2010 yang dijadwalkan pensiun kapal untuk 2013, ketika dia akan melayani selama 51 tahun berturut-turut, lebih lama daripada kapal induk AS lainnya. Perusahaan 's rumah pelabuhan adalah Naval Station Norfolk, Virginia pada September 2012. penyebaran akhir nya, yang terakhir sebelum dekomisioning nya, mulai pada tanggal 10 Maret 2012 dan berakhir 4 November 2012. Dia dinonaktifkan pada tanggal 1 Desember 2012 dengan dekomisioning resminya terjadi beberapa saat setelah reaktor nya yang defueled. Nama ini telah diadopsi oleh masa depan R. Gerald Ford kelas kapal induk USS Enterprise (CVN-80).

Enterprise adalah kapal Angkatan Laut ditugaskan, tapi tidak aktif. Dia telah mengalami cukup proses inaktivasi empat tahun lama untuk membuat layak nya untuk layanan lebih lanjut. Inaktivasi menghilangkan bahan bakar, cairan, perabotan, alat-alat, fitting, minyak, dan de-energi pada sistem kelistrikan. Perusahaan telah dipotong terbuka untuk memungkinkan penghapusan sistem bisa digunakan. Pada tahun 1958, Enterprise 's keel dibaringkan di Newport News Shipbuilding dan Perusahaan Drydock. Pada tanggal 24 September 1960, kapal itu diluncurkan, disponsori oleh Ibu WB Franke, istri mantan Sekretaris Angkatan Laut . Pada tanggal 25 November 1961, Enterprise ditugaskan, dengan Kapten Vincent P. De Poix , mantan Memerangi Skuadron 6 pada pendahulunya, di perintah. Pada tanggal 12 Januari 1962, kapal membuat perjalanan gadisnya melakukan pelayaran tiga bulan penggeledahan dan serangkaian panjang tes dan latihan yang dirancang untuk menentukan kemampuan penuh bertenaga nuklir kapal induk .

Pada bulan November 1965, E Big dipindahkan ke Pasifik Armada Ketujuh , rumah-port di NAS Alameda California. Bulan berikutnya, pada tanggal 2 Desember, ia menjadi kapal bertenaga nuklir pertama yang terlibat dalam pertempuran ketika ia meluncurkan pesawat melawan Viet Cong dekat Bien Hoa . Kapal memimpin Divisi Tiga Pengangkut , dengan USS Enterprise (CVAN-65), yang memiliki Pembawa Air Wing Sembilan kapal, USS Bainbridge (DLGN-25) , USS Barry (DD-933), dan USS Samuel B. Roberts (DD-823 ) . Perusahaan meluncurkan 125 sorti pada hari pertama, melepaskan 167 ton singkat (151 t) bom dan roket di jalur pasokan musuh. Pada tanggal 3 Desember, dia menetapkan rekor 165 sorties pemogokan dalam satu hari.

Pada bulan Januari 1966, operator itu melanjutkan operasi sebagai unit Gugus Tugas 77 di Teluk Tonkin , sebagai kapal bendera Laksamana Henry L. Miller, Komandan Divisi Tiga pembawa . Di bawah komando Kapten James L. Holloway III , ia membawa pelengkap dari sekitar 350 perwira dan 4.800 pria. Empat skuadron pantai Barat Pembawa Air, Wing Sembilan diperintahkan oleh Komandan FT Brown, yang memulai, Fighter Squadron 92, di bawah Komandan EA Rawsthorne, dan Fighter Squadron 96, di bawah Komandan RD Norman, terbang F-4B Phantom, Serangan Skuadron 93 di bawah Komandan AJ Monger, dan Serangan Skuadron 94, di bawah Komandan OE Krueger, terbang A-4C Skyhawks. Dengan skuadron tiga orang lain berdasarkan Pantai Timur, Serangan Skuadron 36, di bawah Komandan JE Marshall, Serangan Skuadron 76, di bawah Komandan JB Linder, terbang A-4C Skyhawks, dan Reconnaissance Serangan Skuadron 7, di bawah Komandan K Enny, terbang RA- 5C warga.

Laksamana Miller merasa lega sebagai Komandan Divisi Tiga Pembawa oleh Laksamana TJ Walker pada tanggal 16 Februari 1966. Selama perubahan upacara komando di dek penerbangan, Laksamana Miller memuji kinerja kapal dalam sambutannya perpisahan, dan disajikan medali udara untuk lebih dari seratus pilot dan petugas penerbangan. Kapal diikat di Leyte Pier, Subic Bay, pada malam tanggal 8 Desember 1966. Loading persediaan untuk periode baris pertama dimulai segera. Laksamana Walter L Curtis, Jr, Komandan Divisi Sembilan Pembawa , pecah bendera kapal. Dalam perusahaan dengan USS Manley (DD-940) , USS Gridley (DLG-21) dan USS Bainbridge (DLGN-25) , Enterprise berlayar untuk Stasiun Yankee pada tanggal 15 Desember, dan mengambil posisi di sana tiga hari kemudian.

Ketika Perusahaan berangkat Teluk Tonkin pada tanggal 20 Juni 1967, pilot nya telah terbang lebih dari 13.400 misi pertempuran selama 132 hari memerangi operasi. (Enterprise Command Sejarah 1967, 29) Sebagai Wakil Laksamana Hyland menyatakan dalam pernyataan ucapan selamatnya, "Air keseluruhan Wing Sembilan telah menerima gemilang 'Well Done'. " Perusahaan tersebut telah dikukus 67.630 mil dalam operasi dengan Armada Ketujuh. Dia tiba di Subic Bay 22 Juni dan 25 berangkat untuk kembali ke Alameda 6 Juli 1967. Pada Alameda, Enterprise mulai perbaikan. Kapten Kent L. Lee lega Kapten James L. Holloway sebagai memerintahkan petugas upacara pada tanggal 11 Juli 1967. Pekerjaan Shipyard selesai, Enterprise dikukus selatan dari San Francisco Bay ke San Diego ke Carrier Air Wing reembark Sembilan dan mendapatkan berlangsung untuk pelatihan penyegaran lepas pantai California. Pada Januari 1968, penangkapan Pueblo oleh Korea Utara kapal patroli menyebabkan krisis diplomatik. Perusahaan diperintahkan untuk beroperasi dekat Korea Selatan perairan selama hampir satu bulan.

Pada pagi hari tanggal 14 Januari 1969, saat sedang dikawal oleh kapal perusak USS Benjamin Stoddert (DDG-22) dan USS Rogers (DD-876) , sebuah MK-32 Zuni roket dimuat pada diparkir F-4 Phantom meledak karena persenjataan masak off setelah panas oleh unit pesawat mulai dipasang pada traktor derek. Ledakan berangkat kebakaran dan ledakan tambahan di seluruh dek penerbangan . Kebakaran dibawa di bawah kendali yang relatif cepat (jika dibandingkan dengan kebakaran deck pembawa penerbangan sebelumnya), namun 27 orang meninggal dan 314 orang terluka tambahan. Api menghancurkan 15 pesawat, dan kerusakan akibat dipaksa Enterprise untuk dimasukkan ke dalam untuk perbaikan di Pearl Naval Shipyard Harbor, terutama untuk memperbaiki plating lapis baja dek penerbangan itu. Pada tanggal 1 Maret 1969, perbaikan ke kapal diselesaikan di Pearl Harbor , Hawaii dan kapal melanjutkan pada penyebaran dijadwalkan nya 'Westpac' ke Vietnam dan Teluk Tonkin. Tujuan ini akan tertunda oleh peristiwa berlangsung di Timur Laut Jepang.

Pada tanggal 14 April 1969, ketegangan dengan Korea Utara berkobar lagi sebagai Korea Utara pesawat ditembak jatuh sebuah bintang EC-121 Peringatan yang sedang melakukan patroli pengintaian Timur Laut Jepang dari basisnya di Atsugi, Jepang . Para awak 31-man seluruh tewas. AS menanggapi dengan mengaktifkan Task Force 71 (TF 71) untuk melindungi penerbangan tersebut di masa depan atas orang perairan internasional . Awalnya, Task Force adalah terdiri Enterprise, Ticonderoga , Ranger , dan Hornet dengan layar kapal penjelajah dan kapal perusak. Enterprise tiba di stasiun dengan TF 71 pada akhir April setelah selesai perbaikan. Kapal-kapal untuk TF 71 kebanyakan berasal dari tugas Asia Tenggara. Penyebaran ini menjadi salah satu acara terbesar kekuatan di daerah itu sejak Perang Korea. Dalam semua, Enterprise membuat pengerahan tempur enam ke Asia Tenggara 1965-1975.
Selengkapnya

Gol ke-1.000 Pele - Pemain Sepak Bola

Gol ke-1.000 Pele - Pemain Sepak Bola
Edison Arantes do Nascimento atau lebih dikenal sebagai Pelé (lahir 23 Oktober 1940) adalah legenda sepak bola dunia yang berasal dari Brasil. Selama kariernya sebagai pemain, Pele berhasil membawa Brasil menjadi Juara Dunia Sepak bola sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Chili, dan tahun 1970 di Meksiko. Berkat keberhasilannya tersebut, Brasil berhak atas Piala Jules Rimet. Pelé mendapatkan julukan O Rei atau Sang Raja. Dia lahir di Três Corações, Minas Gerais, Brasil. Pada 19 November 1969 Pelé mencetak gol ke 1.000-nya untuk Santos. Gol itu dicetak Pelé ketika berhadapan dengan Vasco da Gama lewat tendangan pinalti.

Pelé yang lahir di Três Corações adalah anak pemain sepak bola yang bermain di Fluminense, Dodinho dengan Dona Celeste Arantes. Awalnya dia dipanggil dengan nama Dico tapi kemudian ia dipanggil sebagai Pelé oleh teman-temannya merujuk pada kiper Vasco da Gama yang merupakan idolanya, Bilé. Pelé hidup dalam kemiskinan di Sao Paulo. Dia mencari uang tambahan sebagai pelayan di kedai teh setempat. Dia kemudian bergabung dengan klub lokal Bauru sejak 1952 namun Pelé tidak mampu membeli sepatu bola. Ia kemudian bermain dengan mengikatkan koran bekas di kakinya sebagai sepatu, dan buah jeruk sebagai bolanya.

Pada tahun 1956, Pelé mengikuti seleksi pemain sepakbola di klub Santos, sebuah klub kecil diluar Sao Paulo. Pemandu bakat yang melihatnya kemudian berkata kepada Presiden klub bahwa anak 15 tahun yang bernama Pelé akan menjadi "pemain terbaik dunia" Pelé kemudian memulai debutnya di Santos pada 7 September 1957 mencetak 1 gol dalam kemenangan 7-1 melawan Corinthians dalam pertandingan eksebisi. Ketika liga dimulai Pelé telah mendapatkan tempat utama dalam tim senior Santos. Pada akhir musim kompetisi Pelé keluar sebagai top scorer liga pada umur 16 tahun. Hanya dalam tempo singkat, Pelé kemudian dipanggil untuk bergabung dengan skuat tim nasional Brasil. Sesudah penampilannya di Piala Dunia 1962, tim raksasa eropa seperti Real Madrid, Manchester United dan Juventus mulai mengincarnya. Namun hal ini dicegah oleh pemerintah Brasil dengan mengatakan bahwa Pelé adalah bagian dari harta karun negara dan tidak diperbolehkan bermain sepakbola di luar Brasil.

Trofi pertama untuk Pelé bersama Santos adalah Campeonato Paulista atau juara liga dimana Pelé secara menakjubkan keluar sebagai pancetak gol terbanyak dengan 56 gol, sebuah rekor yang tetap bertahan sampai sekarang. Setahun kemudian O Rei mempersembahkan trofi Torneio Rio-São Paulo dimana Santos mengalahkan Vasco da Gama 3-0. Sayangnya Santos tidak mampu mempertahankan trofi Campeonato Paulista. Pada 1960 Pelé berhasil membawa Santos memenangkan trofi Campeonato Paulista akan tetapi kalah dalam Torneio Rio-São Paulo. Pelé menyelesaikan kompetisi dengan mencetak 47 gol. Sepanjang kariernya di Santos Pelé telah mempersembahkan 10 trofi Campeonato Paulista, 4 trofi Torneio Rio-São Paulo, 5 trofi Taca Brazil, 1 trofi Recopa Int. dan trofi Torneio Roberto Gomes Pedrosa. Santos kemudian berpartisipasi dalam Copa Libertadores, turnamen paling bergengsi di Amerika Selatan, dimana Pelé berhasil membawa Santos meraih trofi tersebut 2 kali pada tahun 1962 dan 1963 dan menjadi Top Skorer turnamen pada 1965. Pelé juga mengantarkan Santos menjuarai Piala Interkontinental yang sekarang menjadi turnamen Piala Dunia Antarklub pada tahun 1962 mengalahkan Benfica 3-2 dan 4-2 dan 1963, mengalahkan AC Milan 2-4, 4-2 dan play-off 1-0.

Pada 19 November 1969 Pelé mencetak gol ke 1.000-nya untuk Santos. Gol itu dicetak Pelé ketika berhadapan dengan Vasco da Gama lewat tendangan pinalti. Penampilan Pelé bersama Santos telah membuatnya berkeliling dunia dalam berbagai laga eksebisi. Salah satunya pada 1967 dimana Santos bersama Pelé tampil di Nigeria di tengah-tengah perang saudara. Tampilnya Pelé membuat perang tersebut mengalami gencatan senjata selama 48 jam agar rakyat bisa menyaksikan Pelé tampil dalam laga eksebisi di Lagos, Nigeria. Pelé kemudian pensiun sebagai pemain Santos pada tahun 1972. Selama 17 tahun kariernya bersama Santos Pelé telah mengoleksi total 1.115 penampilan dan mencetak 1.091 gol. Ini merupakan sebuah rekor klub.

Pada tahun 1974, Pelé tampil sebagai duta sepakbola untuk Amerika Serikat dalam rangka memopulerkan sepak bola bersama dengan Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff. Pelé bergabung dengan klub New York Cosmos. Walaupun telah berumur 34 tahun, namun kemampuan Pelé masih memukau. Dia bahkan mengantarkan New York Cosmos menjadi juara NASL (North American Soccer League) pada tahun ketiga nya. Total Pelé tampil dalam 107 pertandingan dan mencetak 64 gol. Karier Pelé bersama Brasil dimulai pada 7 Juli 1957 dimana Brasil kalah oleh Argentina 2-1. Pelé mencetak salah satu gol dalam pertandingan itu pada usia 16 tahun 9 bulan, sebuah rekor untuk Brasil sebagai pemain termuda yang pernah tampil untuk Brasil.

Pertandingan pertama Pelé dalam piala dunia adalah melawan Uni Soviet. Ia adalah pemain termuda dalam turnamen itu. Pelé kemudian mencetak gol pertama untuk Brasil ketika melawan Tim nasional Wales yang mengantarkan Brasil ke semifinal melawan Prancis. Pada babak pertama Brasil telah unggul 2-1, kemudian Pelé mencetak hattrick, menjadi pemain termuda pertama yang melakukannya. Brasil unggul 5-1 atas Prancis. Pada final melawan tuan rumah Swedia, Pelé menjadi orang termuda yang pernah tampil dalam final Piala Dunia dalam usia 17 tahun 249 hari. Dia mencetak 2 gol pada pertandingan itu, salah satunya di daulat sebagai salah satu gol teindah dalam sejarah Piala Dunia, sebuah lob melewati kepala bek Swedia dan disusul oleh tendangan keras terarah ke arah gawang Swedia yang dijaga oleh Kalle Svensson. Pertandingan itu sendiri dimenangi oleh Brasil 5-2. Pelé kemudian menjadi runner-up top scorer dalam turnamen tersebut, di bawah Just Fontaine dengan 6 gol. Brasil pun meraih trofi Piala Dunia nya yang pertama dalam sejarah.

Pelé memulai pertandingan melawan Mexico dimana Pelé memberi 1 assist dan kemudian mencetak gol kedua setelah melewati 4 pemain Mexico. Pertandingan itu sendiri berkesudahan 2-0. Sayangnya ia cedera ketika melawan Cekoslowakia. Hal ini membuat Pelé absen sepanjang turnamen, perannya dalam tim Brasil digantikan oleh Garrincha yang berhasil membawa Brasil meraih gelar Piala Dunia ke duanya. Turnamen ini dimulai dengan kontroversi dimana Pelé menjadi target tekel-tekel brutal oleh pemain Bulgaria dan Portugal. Saat itu pergantian pemain belum diperbolehkan dalam pertandingan. Brasil kemudian tersingkir di babak awal. Pelé kemudian bersumpah untuk tidak lagi berpartisipasi dalam Piala Dunia. Ia kemudian mengubah keputusannya itu. Inggris kemudian memenangkan gelar Piala Dunia mereka yang pertama.

Pelé dipanggil untuk memperkuat tim Brasil pada 1969, namun ia menolaknya. Setahun kemudian ia kemudaian menyetujuinya dengan bermain untuk tim Brasil selama Piala Dunia 1970 dengan mencetak 6 gol. Tim Brasil saat itu disebut-sebut sebagai tim terbaik sepanjang masa dengan Pelé, Rivelino, Jairzinho, Tostão, Gérson, Carlos Alberto Torres dan Clodoaldo sebagai anggotanya. Pertandingan pertama Brasil berhadapan dengan Cekoslowakia dengan skor akhir 4-1. Brasil kemudian berhadapan dengan juara bertahan Inggris dimana Pelé hampir mencetak gol pertama lewat sundulan ke tiang jauh akan tetapi secara luar biasa diselamatkan oleh kiper Inggris, Gordon Banks. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Brasil 1-0. Lawan berikutnya Rumania pun kalah oleh Seleção 3-2 dimana Pelé mencetak gol pembuka lewat tendangan bebas. Peru adalah lawan Brasil berikutnya dengan bintang mudanya Teófilo Cubillas, Seleção kembali melaju lewat kemenangan 4-2 dimana Pelé memberikan assist kepada Tostão untuk mencetak gol ke-3 bagi Brasil.

Semifinal mempertemukan Brasil dengan Uruguay untuk pertama kalinya sejak final Piala Dunia 1950 di Brasil dimana Uruguay menghadirkan kedukaan yang mendalam untuk rakyat Brasil. Pertandingan yang penuh emosi bagi rakyat Brasil dimenangkan oleh Seleção 3-1. Italia adalah lawan Seleção di partai final dimana Pelé mencetak gol pembuka laga. Brasil pun menyelesaikan pertandingan dengan keunggulan 4-1 dimana go terakhir menunjukkan dominasi Brasil dalam pertandingan ini. Bola yang di bawa pelan dari daerah pertahanan sendiri berhasil disarangkan ke gawang Italia tanpa bisa disentuh sekali pun oleh para pemain Italia. Pelé menyelesaikan turnamen dengan mencetak 6 gol. Trofi Jules Rimet pun menjadi milik Brasil selamanya. Selama berkostum Seleção, Pelé tampil sebanyak 92 kali dengan mencetak 77 gol (rekor gol terbanyak untuk Brasil sampai saat ini).
Selengkapnya