Hari Perempuan   Women Day

blogger counters


Insiden 13 Mei - Kerusuhan Mei 1998

Insiden 13 Mei - Kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan atau huru-hara terjadi kala sekelompok orang berkumpul bersama untuk melakukan tindak kekerasan, biasanya sebagai tindak balas terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil ataupun sebagai upaya penentangan terhadap sesuatu. Alasan yang sering menjadi penyebab kerusuhan termasuk kondisi hidup yang buruk, penindasan pemerintah terhadap rakyat, konflik agama atau etnis, serta hasil sebuah pertandingan olahraga.

Insiden 13 Mei adalah istilah untuk kerusuhan rasial antara etnis Tionghoa dan orang Melayu yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia pada 13 Mei 1969 yang menyebabkan sedikitnya 184 orang meninggal. Pada 1963, Malaysia menderita akibat ketimpangan kekayaan antara golongan keturunan Tionghoa yang umumnya pedagang, yang menguasai sebagian besar ekonomi Malaysia, dengan golongan miskin, penduduk Melayu. Selain itu, orang Tionghoa juga menguasai sebagian besar kekayaan negara.

Kerusuhan rasial di Singapura pada 1964 juga merupakan salah satu penyebab keluarnya negara itu dari Malaysia (dulunya Singapura merupakan bagian dari Malaysia), dan ketegangan rasial terus berlangsung. Kebanyakan orang Melayu tidak puas dengan negara yang baru saja merdeka itu yang berkeinginan untuk menenangkan etnis Tionghoa dengan pengeluaran mereka.

Pada pemilihan umum 10 Mei 1969, koalisi Aliansi yang memerintah diketuai oleh United Malays National Organization (UMNO) menderita kekalahan besar. Partai terbesar golongan Tionghoa Democratic Action Party dan Gerakan mendapat suara dalam pemilihan, dan berhak untuk mengadakan pawai kemenangan melalui jalur yang telah ditetapkan di Kuala Lumpur. Namun, pawai yang berisik dan kasar dan menyimpang dari jalurnya dan mengarah ke distrik Melayu Kampong Bahru, mengolok penduduknya.

Meskipun Partai Gerakan mengeluarkan permintaan maaf keesokan harinya, UMNO mengumumkan pawai tandingan mulai dari kepala negeri Selangor Dato' Harun bin Idris di Jalan Raja Muda. Dilaporkan, masyarakat yang berkumpul diberi tahu bahwa suku Melayu yang menuju ke prosesi telah diserang oleh suku Tionghoa di Setapak, beberapa mil di utara. Para pemrotes yang marah dengan cepat mengadakan pembalasan dengan membunuh dua pengendara sepeda motor yang lewat, dan kerusuhan pun meledak.

Ketika kerusuhan berlangsung pengeras suara di masjid-masjid digunakan untuk mendorong para perusuh untuk melanjutkan aksi mereka. Perusuh mulai beraksi di ibukota Kuala Lumpur dan wilayah sekitar negeri Selangor, dengan pengecualian gangguan kecil di Melaka tempat lain di negara tersebut tetap tentram. Keadaan darurat nasional dan jam malam diumumkan pada 16 Mei tetapi jam malam dikurangi di beberapa bagian di negara tersebut pada 18 Mei dan dihilangkan dalam waktu seminggu di pusat Kuala Lumpur.

Menurut data polisi, 184 orang meninggal dan 356 terluka, 753 kasus pembakaran dicatat dan 211 kendaraan hancur atau rusak berat. Sumber lain menyebutkan jumlah yang meninggal sekitar 196 orang atau bahkan lebih dari 200 orang. Beberapa memperkirakan jumlah kematian bahkan mencapai 700 orang sebagai akibat dari kerusuhan.

Kesimpulan - Ternyata keputusan Tunku Abdul Rahman dengan mengeluarkan Singapura dari Malaysia tidak menyelesaikan masalah ras. Peristiwa 13 Mei 1969 merupakan puncak kemarahan lama orang Melayu karena mereka miskin di tanah air mereka sendiri. Pada tahun 1969 pemilu diadakan kembali dan partai yang berkuasa memenangi 2/3 dari semua kursi.

Barisan Nasional dibentuk - Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dibentuk untuk mengurangkan jumlah pemilih Tionghoa dalam Dewan Undangan Negeri Selangor. Beberapa tokoh politik yang dianggap berbahaya telah ditahan melalui Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA). Batas-batas dalam pemilu yang lebih bijaksana dan seimbang dilaksanakan. Sistem demokrasi, pemilu dan pembagian kue ekonomi nasional ditafsirkan kembali dan dibagi secara lebih adil.

Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.

Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht di Jerman pada tanggal 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal yang sistematis atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi. Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.

Pengusutan dan penyelidikan - Tidak lama setelah kejadian berakhir dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini. TGPF ini mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF". Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan, TGPF menemukan bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatar belakang militer. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan ini. Pada 2004 Komnas HAM mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004 belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.

Penuntutan Amandemen KUHP - Pada bulan Mei 2010, Andy Yentriyani, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat di Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), meminta supaya dilakukan amandemen terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Menurut Andy, Kitab UU Hukum Pidana hanya mengatur tindakan perkosaan berupa penetrasi alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan. Namun pada kasus Mei 1998, bentuk kekerasan yang terjadi sangat beragam. Sebanyak 85 korban saat itu (data Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998), disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam, anal, dan oral. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut belum diatur dalam pasal perkosaan Kitab UU Hukum Pidana.
Selengkapnya

Tragedi Trisakti - Kronologis Peristiwa

Tragedi Trisakti - Kronologis Peristiwa
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978 - 1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1988). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Latar belakang dan kejadian - Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997 - 1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Akhirnya, pada pukul 5.15 sore hari, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras.

Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brigade Mobil Kepolisian RI, Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon Infanteri 202, Pasukan Anti Huru Hara Kodam seta Pasukan Bermotor. Mereka dilengkapi dengan tameng, gas air mata, Styer, dan SS-1.

Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Hasil sementara diprediksi peluru tersebut hasil pantulan dari tanah peluru tajam untuk tembakan peringatan.

Rentang waktu atau Kronologis Kejadian

10.30-10.45 - Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.

10.45-11.00 - Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia sekarang ini.

11.00-12.25 - Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.

12.25-12.30 - Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.

12.30-12.40 - Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.

12.40-12.50 - Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.

12.50-13.00 - Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

13.00-13.20 - Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negoisasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat, Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat). Sementara negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju. Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan. Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.

13.20-13.30 - Tim negoisasi kembali dan menjelaskan hasil negoisasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan oleh kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.

13.30-14.00 - Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiswa. Sementara rekan mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan aparat. Sementara itu pula datang tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.

14.00-16.45 - Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai berkurang dan menuju ke kampus. Polisi memasang police line. Mahasiswa berjarak sekitar 15 meter dari garis tersebut.

16.45-16.55 - Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur.

16.55-17.00 - Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim Jakbar memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa terima kasih karena mahasiswa sudah tertib.

Mahasiswa kemudian membubarkan diri secara perlahan-lahan dan tertib ke kampus. Saat itu hujan turun dengan deras. Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.

17.00-17.05 - Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala kamtibpus Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.

17.05-18.30 - Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Usakti.

Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. Termasuk Ketua SMUT yang berada di antara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.

Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.

18.30-19.00 - Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda-beda menuju RS.

19.00-19.30 - Rekan mahasiswa kembali panik karena terlihat ada beberapa aparat berpakaian gelap di sekitar hutan (parkir utama) dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.

19.30-20.00 - Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar adari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing- masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.

20.00-23.25 - Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang. Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Jumpa pers oleh pimpinan universitas. Anggota Komnas HAM datang ke lokasi

01.30 - Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di Mapolda Metro Jaya. Hadir dalam jumpa pers itu Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Trisakti Prof. Dr. R. Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.

#Sumber: Siaran Pers Senat Mahasiswa Trisakti dan Arsip berita Kompas 13 Mei 1998
Selengkapnya

Pelantikan Presiden Korea Selatan

Pelantikan Presiden Korea Selatan
Korea Selatan - Republik Korea (bahasa Korea: Daehan Minguk; bahasa Inggris: Republic of Korea) biasanya dikenal sebagai Korea Selatan, adalah sebuah negara di Asia Timur beribu kota Seoul yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Di sebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai sebuah negara hingga tahun 1948. Setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II, Wilayah Korea akhirnya dibagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.

Korea Selatan adalah negara republik. Seperti pada negara-negara demokrasi lainnya, Korea Selatan membagi pemerintahannya dalam tiga bagian: eksekutif, yudikatif dan legislatif. Lembaga eksekutif dipegang oleh presiden yang dipilih berdasarkan hasil pemilu untuk masa jabatan 5 tahun dan dibantu oleh Perdana Menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dewan perwakilan. Presiden bertindak sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan.

Pada tanggal 25 Februari beberapa tahun terakhir merupakan tanggal yang biasa dijadikan Hari Pelantikan Presiden Korea Selatan.

1988 - Roh Tae-woo dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-13.
Roh Tae-woo (Korea: 노태우, lahir di Daegu, 4 Desember 1932; umur 80 tahun) adalah politisi, jenderal dan Presiden Korea Selatan yang ke-13.

1993 - Kim Young-sam dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-14.
Kim Young-sam (Korea: 김영삼, lahir di Geoje, Gyeongsang Selatan, 20 Desember 1927; umur 85 tahun) adalah Presiden Korea Selatan pada periode 25 Februari 1993-25 Februari 1998.

Kim menempuh pendidikan di Universitas Nasional Seoul pada 1952 dengan menyandang gelar B.A. untuk bidang filsafat. Ia menjabat di angkatan bersenjata Republik Korea Selatan selama terjadi Perang Korea. Pada 1954, ia terpilih di Parlemen Nasional Korea Selatan. Ia tampil kesembilan utusan distrik Geoje dan Busan.

Kim adalah anggota Gereja Presbiterian Chunghyun. Di saat Beliau masih duduk di bangku SD, Kim Young Sam sudah bermimpi menjadi Presiden. Sewaktu bel pulang sekolah, Kim Young Sam pulang paling akhir dan menunggu di dalam kelasnya sampai kelasnya kosong. Beliau berdiri di depan kelas dan berpidato seolah-olah Beliau adalah presidennya dan meja kursi adalah rakyatnya.

1998 - Kim Dae-Jung dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-15.
Kim Dae-jung (Korea: 김대중, lahir di Haui-do,(kini Jeolla Selatan), Korea Selatan, 3 Desember 1925 – meninggal di Seoul,Korea Selatan, 18 Agustus 2009 pada umur 83 tahun) Templat:Pelafalan adalah mantan presiden Korea Selatan dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2000. Ia menjadi orang pertama Korea yang menerima penghargaan itu. Penganut Katolik Roma sejak 1957 ini dijuluki sebagai "Nelson Mandela"-nya Asia dan seorang tokoh oposisi demokrasi saat pemerintahan diktatur militer. Kim Dae Jung menjabat sebagai Presiden (menggantikan Kim Young-sam) pada periode 1998-2003.

Ia lahir di Haui-do, Jeollanam-do, sebuah kepulauan di wilayah Korea Selatan. Ia lahir dari pasangan petani kaya dari pulau Haui-do (baratdaya lepas pantai Semenanjung Korea) dan pedagang. Ia sempat menggeluti bisnis perkapalan sebagai Presiden Direktur Dae Yang Shipbuilding.

Kim meninggal pada 18 Agustus 2009 di KST 13:43, pada Rumah Sakit Severance dari Universitas Yonsei di Seoul. Penyebab kematian diberikan sebagai [sindrom organ multiple [disfungsi]]. Sebuah pemakaman kenegaraan antaragama diadakan baginya pada tanggal 23 Agustus 2009 di depan Gedung Majelis Nasional, dengan prosesi yang mengarah ke Seoul National Cemetery di mana ia dimakamkan sesuai dengan tradisi Katolik. Dia adalah orang ketiga dalam sejarah Korea Selatan diberi Negara Pemakaman setelah Park Chung-hee. Dia meninggal sekitar 3 bulan setelah 9th Presiden Roh Moo-hyun bunuh diri pada 23 Mei 2009.

2003 - Roh Moo-hyun dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-16.
Roh Moo-hyun (Korea: 노무현, API: [no.mu.hjʌn]) (lahir di Gimhae, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, 1 September 1946 – meninggal di Yangsan, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, 23 Mei 2009 pada umur 62 tahun) adalah Presiden Korea Selatan ke-16. Ia menjabat sejak 25 Februari 2003 sampai 24 Februari 2008. Sebelum terjun di dunia politik, Roh adalah seorang pengacara HAM.

Karier politiknya diwarnai upaya-upaya untuk mengatasi regionalisme dalam dunia politik Korea Selatan, sebelum kemudian akhirnya ia dilantik menjadi presiden. Lawan-lawan politiknya mencoba untuk memecatnya melalui pemakzulan pada tahun 2004, namun gagal. Setelah peristiwa tersebut ia kembali menjabat dengan mandat yang lebih kuat dibandingkan dengan saat ia baru menjadi presiden, namun sejak saat itu popularitasnya telah menunjukkan penurunan.

Antara kebijakan yang diambilnya sebagai presiden adalah pengiriman tentara Korea ke Irak, upayanya yang gagal untuk memindahkan ibu kota korea Selatan dari Seoul ke Chungcheong, dan keinginannya untuk membentuk sebuah koalisi besar dengan Partai Nasional Utama yang dikritik dengan luas. Ketidakpopuleran Roh diperparah dengan kebijakan perjanjian atas Korea Selatan, yang menarik kontroversi pada berbagai peristiwa seputar uji peluru dan nuklirnya.

Roh Moo-Hyun meninggal dalam usia 62 tahun setelah terjun bebas dari jurang pegunungan di belakang rumahnya di desa Bongha. Ia menderita cedera kepala berat dan dikirim ke rumah sakit di Busan sekitar pukul 8:15 a.m. (23:15 GMT) dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 9:30 a.m. (00:30 GMT). Menurut pengacaranya, Roh meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa hidupnya "sulit" dan meminta maaf telah "membuat banyak orang menderita". Kepolisian KorSel kemudian menegaskan kematian Roh.

2008 - Lee Myung-bak dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-17.
Lee Myung-bak (Korea: 이명박, diucapkan [i.mʲʌŋ.bak̚]) (lahir di Osaka, Jepang, 19 Desember 1946; umur 66 tahun) adalah Presiden Korea Selatan sejak 25 Februari 2008. Sebelumnya, ia menjabat wali kota Seoul. Ia adalah anggota Partai Besar Nasional (Grand National Party). Sebagai wali kota Seoul, ia dikenal dengan kebijakan-kebijakan kontroversialnya seperti restorasi Cheonggyecheon, ia ingin sekali menjadi pemimpin seperti Muammar al-Qaddafi yang rela berkorban demi rakyat yang tertindas.

2013 - Park Geun-hye dilantik menjadi Presiden Korea Selatan ke-18.
Park Geun-hye (Hangul: 박근혜; Hanja: 朴槿惠, Pengucapan Korea: [pak ɡɯn hɛː]) (lahir di Daegu, 2 Februari 1952; umur 61 tahun) adalah presiden terpilih Korea Selatan. Ia pernah menjabat sebagai ketua dari Grand National Party atau disingkat GNP antara tahun 2004 dan 2006 dan dari tahun 2011 dan 2012. Pada bulan Februari 2012, partai GNP berubah nama menjadi Saenuri Party. Ayahnya adalah Park Chung-hee, presiden Korea Selatan yang berkuasa antara 1963-1979. Pada 19 Desember 2012, Park Geun-hye memenangkan pemilihan umum dan akan menjadi wanita pertama Presiden Korea Selatan, akan duduk di pemerintahan mulai 25 Februari 2013.

Park Geun-hye lahir pada tanggal 2 Februari 1952, di Samdeok-dong Jung-gu, Daegu, sebagai anak pertama dari pasangan Presiden Park Chung-hee dan Young-soo Yuk. Dia memiliki saudara laki-laki, Park Ji-man, dan seorang saudari, Park Seoyeong. Walaupun umurnya lebih dari 60 tahun, Park Geun-hye belum pernah menikah. Semasa dewasa, ia menamatkan pendidikan dari Sekolah Tinggi Seongsim Seoul pada tahun 1970, dan kemudian menerima gelar sarjana di bidang teknik listrik dari Sogang University pada tahun 1974. Dia juga belajar di Universitas Grenoble di Perancis, tetapi tidak sampai selesai. Hal ini terjadi lantaran kematian ibunya, hingga ia harus kembali ke Korea Selatan. Nona Park juga pernah menerima beberapa gelar doktor kehormatan, diantaranya dari Chinese Culture University di Taiwan pada tahun 1987, Pukyong National University dan KAIST pada tahun 2008, serta dari Sogang University pada tahun 2010.

Ibunya meninggal karena terbunuh di Teater Nasional Korea pada tanggal 15 Agustus 1974. Pembunuhnya adalah Mun Se-gwang, merupakan seorang keturunan Jepang Korea, yang diperintahkan oleh pemerintah Korea Utara. Sejak kematian ibunya, Park Geun-hye menjadi Ibu Negara mengambil alih peran ibunya, sampai selama ayahnya masih berkuasa sampai tahun 1979. Ayahnya kemudian tewas karena pembunuhan yang dilakukan oleh kepala intelijen sendiri, Gim Jaegyu, pada tanggal 26 Oktober 1979.

Park Geun-hye mendapatkan banyak kritikan terutama saat ia mencalonkan diri menjadi presiden. Salah satunya adalah "putri diktator," isu yang dihembuskan oleh lawan politik dari sayap kiri Korea dan ia dianggap juga tidak aktif mendukung pemerintahan Lee Myung-bak. Namun Sebuah jajak pendapat tingkat nasional dilakukan oleh sebuah surat kabar konservatif pada bulan Juli 2012 melaporkan bahwa 59,2% dari responden tidak percaya Park adalah "putri diktator", sementara 35,5% menjawab setuju.

Beberapa kritik pedas lainnya adalah "Notebook Princess", sebuah julukan diberikan pada seseorang yang tumbuh sebagai anak istimewa dalam keluarga presiden dan terlalu pendiam, yang biasanya hanya bisa berpidato secara terbuka dari naskah yang telah disiapkan. Beberapa surat kabar juga memberinya julukan sebagai "Putri Es" karna sikap dan tindakannya yang dianggap dingin.

Pada sebuah sesi wawancara dengan stasiun siaran Cheongju, Park berkomentar tentang kudeta ayahnya yang mendapatkan kekuasaan melalui tindakan paksa pada 16 Mei 1961. Namun ia berkilah tindakan ayahnya lebih tepat disebut dengan revolusi untuk menyelamatkan negara. Dalam debat calon presiden disponsori oleh Daylian, moderator sempat bertanya tentang berapa tarif per jam minimum untuk pekerja paruh waktu pada 2012. Pada kesempatan itu, Park menjawab "Saya pikir lebih dari 5.000 won." Jawabannya menjadi bahan olok-olokan dari Konfederasi Serikat Pekerja Korea, karna upah minimum terendah adalah 4580 won. Alasannya, mereka kecewa jika seseorang ingin jadi presiden namun tidak tahu besarnya upah minimum di negara itu. - Daftar Presiden Korea Selatan -
Selengkapnya