Hari Perempuan   Women Day

blogger counters


Kalender Fenomena Langit Terjadi Tahun 2023

Kalender Fenomena Alam Terjadi Tahun 2019New Horizons ke Ultima Thule - Tepat Tahun Baru 2019, pesawat luar angkasa Badan Antariksa Amerika (NASA) New Horizons akan mencapai Ultima Thule. Titik itu adalah yang terjauh yang pernah dicapai objek manusia. Ultima Thule berada di Sabuk Kuiper yang jaraknya sekitar 4 miliar mil dari Bumi, berada di dekat Pluto. Bentuknya disebut para astronom mirip kulit kacang. Sepanjang 31 Desember 2018 hingga 1 Januari 2019, New Horizons akan terbang, mempelajari, dan memotret objek misterius tersebut.

Hujan Meteor Quadrantids - Pada 2019, Cahaya Bulan yang cerah tidak akan menghalangi hujan meteor tahunan Quadrantids. Hujan itu mulai memuncak sekitar jam 9 malam pada 3 Januari dan berlangsung hingga subuh keesokan harinya. Menurut EarthSky, Quadrantids dapat menghasilkan 50 hingga 100 meteor per jam. Tetapi pengamat langit perlu menemukan langit malam yang gelap untuk melihat lebih dari satu meteor per menit.

Super Moon - Pada 19 Februari, penduduk Bumi akan melihat supermoon di mana Bulan akan terlihat lebih besar dari ukuran normalnya. Bulan yang jaraknya 356.800 km dari akan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi tahun depan. Super moon akan membuat Bulan terlihat 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dibanding purnama lainnya.

Oposisi Jupiter - Sang planet raksasa gas yang juga merupakan planet terbesar setata surya kita tersebut akan mengalami oposisi pada 10 Juni 2019. Ketika itu, Jupiter akan berada pada jarak sekitar 4,28 AU (1 AU = 150 juta kilometer) dari Bumi, jarak terdekat di antara kedua planet. Ini adalah saat terbaik untuk mengamati Jupiter. Dalam pandangan mata telanjang, ia akan muncul bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip di langit. Sementara bila diamati melalui teleskop, kamu bisa melihat badai merah besar di atmosfernya beserta empat bulan terbesar Jupiter: Ganimede, Io, Europa, dan Kalisto. Oposisi Jupiter akan membuat planet ini muncul dengan diameter sudut selebar 45 detik busur dan akan mencapai magnitudo -2,6.

Oposisi Saturnus - Planet bercincin akan mencapai oposisi pada 9 Juli 2019. Nantinya, Saturnus akan mencapai jarak sejauh 9,03 AU dari Bumi, jarak terdekatnya. Akan muncul dengan diameter sudut selebar 18,4 detik busur, oposisi juga akan membuat Saturnus mencapai magnitudo 0,1. Sayangnya, karena jaraknya masih cukup jauh dari Bumi, kita belum bisa melihat cincin Saturnus bila pengamatan dilakukan tanpa teleksop. Jadi, siapkan teleksopmu untuk melihat Saturnus yang lengkap dengan cincinnya nanti.

Galaksi Bimasakti - Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu terbaik untuk mengamati bentangan galaksi Bimasakti adalah saat musim kemarau. Di tahun 2019 ini, kita bisa mulai berburu Bimasakti pada bulan Juni hingga Agustus. Cara mengamatinya di daerah yang masih minim polusi cahaya, seperti pegunungan, pantai, atau pedesaan untuk bisa melihat bentangan Bimasakti.

Gerhana Bulan Parsial - Pada pertengahan tahun, Indonesia akan mengalami gerhana Bulan sebagian. Fenomena ini akan terjadi pada 17 Juli 2019. Info Astronomi menulis baha kejadian tersebut akan berlangsung setidaknya selama 5 jam 34 menit dengan fase pasial hanya selama 2 jam 58 menit. Wajah Bulan akan tertutup sebesar 65 persen ke bayangan umbra Bumi. Masyarakat di Indonesia bisa mulai mengamati pada 01.34 ketika Bulan memasuki bayang penumbra Bumi. Gerhananya sendiri baru akan terlihat mulai 03.01 hingga 5.59 WIB. Puncaknya adalah pada pukul 03.01 WIB.

Hujan Meteor Perseid - Perseid merupakan hujan meteor tahunan yang memiliki intensitas tinggi, antara 50-100 meteor per jam. Hujan ini bisa diamati dengan mudah karena meteornya berwarna cerah. Fenomena ini akan terjadi pada 13 Agustus. Dia bisa diamati di rasi bintang Perseus di belahan utara langit tanpa bantuan teleskop.

Hujan Meteor Orionid - Hujan meteor yang satu ini merupakan remahan Komet Halley yang hanya terlihat dari Bumi setiap 75-76 tahun sekali. Intensitas jatuhnya sekitar 10-20 meteor dalam setiap jam pada puncaknya yang akan terjadi pada 21 Oktober 2019. Orionid akan bisa diamati di tengah rasi bintang Orion yang membentuk pedang di ekuator langit dan terlihat di seluruh dunia. Puncak hujan akan dimulai pada tengah malam.

Hujan Meteor Geminid - Seperti namanya, hujan meteor ini memiliki titik radian di rasi bintang Gemini. Hujan meteor yang satu ini akan mencapai puncaknya pada 14 Desember dengan intensitas 80 meteor per jam. Namun berbeda dari hujan meteor lainnya yang umumnya mulai bisa diamati pada tengah malam, hujan meteor Geminid baru dimulai pada pukul 2 dini hari menjelang Matahari terbit. Dia bisa diamati dengan mata telanjang di seluruh dunia. Hujan meteornya cenderung tebal, berwarna putih dan jatuh dengan cepat. Dia berasal dari komet batuan bernama 3200 Phathon.

Gerhana Matahari Cincin - Penduduk Bumi di Indonesia juga akan disuguhi fenomena gerhana Matahari Cincin pada 26 Desember. Namun memang tidak semua wilayah bisa melihatnya tepat seperti cincin. Berdasarkan peta yang disediadakan Eclipse Wise, wilayah Indonesia yang bisa mengamat gerhana Matahari cincin berada di sekitar garis khatulistiwa seperti sebagian Sumatera Utara dan Kalimatan Utara serta Kalimantan Barat. Daerahnya mulai dari Pulau Simeulue, Sinabang, Pemangkat, Singkawang, Tanjung Selor hingga Derawan. Namun di luar daerah tersebut akan mengalami gerhana Matahari parsial mulai dari 72 persen hingga 92 persen.